Tampilkan postingan dengan label Tips menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

Tips Menulis dan Mengedit tulisan ala Raditya Dika

 1. Kasih jarak dulu
Sebelum mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu. Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak terlihat sewaktu sedang menulis dulu.
2. Lebih padat lagi!
Bagi gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih “padet”. Gue akan coba menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di naskah ada tulisan: “Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke sana atau tidak.” Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan menulisnya seperti ini aja: “Gue bingung ke sana apa enggak.” Kalimat dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak terasa “sesak” dan “ramai”.

3. Kurangi kalimat pasif
Gue pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: “Ketimun itu diambil Edgar” akan gue ganti menjadi “Edgar mengambil ketimun”. Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan.
4. Speaker attribution
Speakter attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam kalimat langsung. Misalnya “kata Edgar”, atau “kata gue”, atau “kata Nyokap”. Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution dengan sebuah kegiatan.
Misalnya:
“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,” kata Edgar.
“Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?” tanya gue.
“Mau, Bang! Mau!” kata Edgar.
Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:
“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Cukup, Bang!” Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!”
Gue mengeluarkan dompet, “Tapi, Gar… Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?”
“MAU BANG! MAU!”
Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.
4. Cek typo
Selalu cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak salah ketik.
5. KISS = Keep It Simple, Stupid!
Gue adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: “Dia harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya.” biasanya gue akan ganti menjadi “Dia harus lebih sering mewujudkan idenya.” Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti “gesture” gue pasti rubah menjadi “sikap”. Sebisa mungkin gue menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif kepada pembaca.

6. Struktur dulu, baru komedi
Karena gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi, biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam tulisan gue sembari gue mengedit.
Buat kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit tulisan kamu.

7. Hindari hal-hal klise
Gak tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan istilah yang klise seperti “Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya”, atau “Dia cewek terindah yang pernah gue lihat”, atau “Gue cinta sama dia setengah mati”. Istilah klise ini selain sudah terlalu sering digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya.

8. Udah kelar? Edit lagi!
Writing is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit kayak gue. Huehehehhe.. Semoga membantu calon-calon penulis yang juga lagi nulis/ngedit tulisannya.

 Sumber:

Kamis, 27 Maret 2014

Merancau Ala Dewi Lestari Mengenai Penulisan

     Tulisan ini saya ambil dari tweet @deelestari. Saya Mencoba mengarsipkan apa yang dibagikan oleh para penulis terkemuka ketika mereka berbagi tips dalam menulis. Dan inilah tips menulis ala Dewi Lestari.
  • Level 1: belum pernah menulis tapi mau belajar. Di sini berguna menulis sebanyak-banyaknya, baca sebanyak-banyaknya. Kuantitas dulu. Yang dicari wawasan kreatif.
  • Level 2: sudah menulis tapi jarang selesai. Di sini teknik jadi berguna. Menulis dengan tujuan, dengan struktur dan kerangka.
  • Level 3: sudah menulis tapi ingin meningkatkan kualitas. Di sini menulis tidak lagi jadi perkara mudah. Bukan lagi kuantitas. Teknik level presisi.
  • Jadi pembelajaran menulis memang sebaiknya bertahap. Tergantung kita sdh sampai di mana, dan tujuannya mau ke mana.
  • Tantangan setiap level beda-beda. Seperti makan Mak Icih. Jangan rakus di awal, jangan pula terlena di akhir. Karena pembelajaran terus berjalan.
  • Untuk buka wawasan kreatif, baiknya jangan loncat langsung ke menulis karya, tapi melatih pikiran peka dulu pada ide.
  • Jurnal atau diary adalah pelatihan baik di awal. Tapi jangan berhenti di situ. Begitu diary mau jadi buku, tetap harus pakai teknik dan struktur.
  • Di level 2, penulis sudah mulai ngeblog, self-publish, atau menulis 1-2 buku. Saatnya menajamkan kualitas. Jangan terlena.
  • Level 3 sebetulnya lebih "berbahaya". Penulis sudah cukup mapan, punya pembaca setia. Di sini penulis bisa mentok kalau berhenti mengembangkan kualitas.
  • Kalau kita sudah tahu sudah sampai level mana, kita bisa bikin tantangan sendiri. Contoh: di level 1, baca 1 buku/minggu, bikin 1 blog +/- 400 kata/minggu.
  • Di level 2: bikin karya dengan deadline. Contoh populer: gerakan NaNoWriMo (bikin 1 novel +/- 50.000 kata dalam 1 bulan)
  • Di level 3, keluar dari comfort zone. Cerpenis mencoba menjadi novelis. Novelis pendek (<50.000 kata), coba bikin yang >75.000 kata.