Tampilkan postingan dengan label Copy Paste. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Copy Paste. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Agustus 2015

Kamis, 16 Juli 2015

#Quotes

Uang selalu bisa dicari

Kalau kerja jangan terlalu banyak berpikir,

asalkan serius hasil akan datang dengan sendirinya.

Rabu, 08 Juli 2015

#Quotes

KEINGINAN SAYA UNTUK SUKSES

LEBIH BESAR DARIPADA

KETAKUTAN SAYA UNTUK GAGAL

-Pandji Pragiwaksono-

Jumat, 12 Juni 2015

Penyebab Tumpulnya Kreatifitas

Tulisan ini adalah Copy Paste dari penulisan teman saya Black White Swan di Facebook

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).
Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi org Asia, banyaknya kekayaan yg dimiliki lebih dihargai daripada CARA
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sbg sesuatu yg wajar.
3. Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 iImu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika,dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yg berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah dan takut kalah. Akibat- nya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi selesai sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.
Dalam bukunya Prof. Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah org krn pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau jadi pendeta, membangun mesjid,pesantren, gereja, pura, vihara atau apapun tapi duitnya dari hasil korupsi
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lebih cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas a dalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dgn bangga kalo KITA TIDAK TAU!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita
bertanggung -jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.
Mudah2an dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi.

Minggu, 24 Mei 2015

Love your Money ? This Is How you Work for It.

For everyone who happen to love money and its derivative.
  1. Once you have their money, you never give it back.

  2. The best deal is the one that brings the most profit.

  3. Never spend more for an acquisition than you have to.

  4. If you can't break a contract, bend it.

  5. Never allow family to stand in the way of opportunity.

  6. Keep your ears open.

  7. Small print leads to large risk.

  8. Opportunity plus instinct equals profit.

  9. Greed is eternal.

  10. Even if it's free, you can always buy it cheaper.

  11. Anything worth doing is worth doing for money.

  12. Anything worth doing is worth doing twice.

  13. Keep your family close, keep your Latinum closer.

  14. Acting stupid is often smart.

  15. A deal is a deal. (until a better one comes along).

  16. A contract is a contract is a contract - but only between Ferengi.

  17. A Ferengi without profit is no Ferengi at all.

  18. Satisfaction is not guaranteed.

  19. Only give money to people you know you can steal from.

  20. Never place friendship before profit.

  21. A wise man can hear profit in the wind.

  22. Latinum can't buy happiness, but you can sure have a blast renting it.

  23. There's always a way out.

  24. As the customers go, so goes the wise profiteer.

  25. There's nothing more dangerous than an honest businessman.

  26. Whisper your way to success.

  27. Be careful what you sell. It may do exactly what the customer expects.

  28. War is good for business.

  29. Peace is good for business.

  30. Friendship is temporary; profit is forever.

  31. Profit is its own reward.

  32. What's mine is mine, and what's yours is mine too.

  33. Never confuse wisdom with luck.

  34. Ambition knows no family.

  35. Make your shop easy to find.

  36. Don't trust a man wearing a better suit than your own.

  37. The bigger the smile, the sharper the knife.

  38. Everything is worth something to somebody.

  39. Gratitude can bring on generosity.

  40. Reward anyone who adds to your profits so they will continue to do so.

  41. Never ask when you can take.

  42. Good customers are as rare as Latinum, Treasure them.

  43. There is no substitute for success.

  44. Free advice is seldom cheap.

  45. Keep your lies consistent.

  46. The riskier the road, the greater the profit.

  47. There's a customer born every minute.

  48. Never trust your customers.

  49. Home is where the heart is, but the stars are made of Latinum.

  50. Every once in a while, declare peace. "It confuses the hell out of your enemies".

  51. It's better to swallow your pride than to lose your profit.

  52. When the going gets tough, the tough change the Rules.

  53. The flimsier the product, the higher the price.

  54. A friend is not a friend if he asks for a discount.

  55. Never let the competition know what you're thinking.

  56. A friend in need means three times the profit.

  57. Ask not what your profits can do for you, ask what you can do for your profits.

  58. There are many paths to profit.

  59. For every Rule, there is an equal and opposite Rule, (except when there's not).

  60. Every man has his price.

  61. Trust is the biggest liability of all.

  62. If they take your first offer, you either asked too little or offered too much.

  63. The only value of a collectible is what you can get somebody else to pay for it.

  64. Nature decays, but Latinum lasts forever.

  65. There is no honor in poverty.

  66. A warranty is valid only if they can find you.

  67. Dignity and an empty sack is worth the sack.

  68. Treat people in your debt like family, exploit them [ruthlessly].

  69. The best contract always has a lot of fine print.

  70. Everything is for sale, including friendship.

  71. Never judge a customer by the size of his wallet, (...sometimes, good things come in small packages).

  72. You can't make a deal if you're dead.

  73. Stay neutral in conflict so that you can sell supplies to both sides.

  74. Never trust a beneficiary.

  75. There's no such thing as an unfair advantage.

  76. Risk is part of the game... play it for all it's worth.

  77. There's nothing wrong with charity...as long as it winds up in your pocket.

  78. Necessity, n. The mother of invention. Profit is the father.

  79. Even in the worst of times, someone turns a profit.

  80. Blood is thicker than water, and Latinum is thicker than both.

  81. Know your enemies... but do business with them always.

  82. Not even dishonesty can tarnish the shine of profit.

  83. A fool and his money is the best customer.

  84. Hear all, trust nothing.

  85. It's always good business to know about new customers before they walk in your door.

  86. The justification of profit is profit.

  87. Sometimes the only thing more dangerous than a question is an answer.

  88. Never give away for free what can be sold.

  89. Never begin a business negotiation on an empty stomach.

  90. You can't free a fish from water.

  91. Always know what you're buying.

  92. Latinum lasts longer than lust.

  93. There's a sucker born every minute; be sure you're the first to find each one.

  94. A wife is a luxury... a smart accountant, a necessity.

  95. Accountants do not play the game; they only keep the score.

  96. Life's not fair. How else would you turn a profit?

  97. A wealthy man can afford anything except a conscience.

  98. Never allow doubt to tarnish your lust for Latinum.

  99. The customer is always right, (...until you get their cash).

  100. Anything worth fighting for is worth hiding from.

  101. Deep down, everyone's a Ferengi.

  102. Whenever you exploit someone, it never hurts to thank them. That way, it's easier to exploit them the next time. (Neelix made this rule up)

Minggu, 10 Mei 2015

Rise and Shine - Athlete And Running Ultimate Motivation


Rise and shine.

6am and your hand can't make it to the alarm clock before the voices in your head start telling you that it's too early, too dark, and too cold to get out of a bed.

Aching muscles lie still in rebellion, pretending not to hear your brain commanding them to move.

A legion of voices are shouting their unanimous permission for you to hit the snooze button and go back to dreamland, but you didn't ask their opinion.

The voice you've chosen to listen to is one of defiance.

A voice that's says there was a reason you set that alarm in the first place. So sit up, put your feet on the floor, and don't look back because we've got work to do.

Welcome to The Grind.

For what is each day but a series of conflicts between the right way and the easy way, 10,000 streams fan out like a river delta before you, Each one promising the path of least resistance.

Thing is, you're headed upstream. And when you make that choice, when you decide to turn your back on what's comfortable and what's safe and what some would call "common sense", well that's day 1. From there it only gets tougher.

So just make sure this is something you want. Because the easy way out will always be there, ready to wash you away, all you have to do is pick up your feet.

But you aren't going to are you?

With each step comes the decision to take another.

You're on your way now.

But this is no time to dwell on how far you've come. You're in a fight against an opponent you can't see.

Oh but you can feel him on your heels can't you?

Feel him breathing down your neck.

You know what that is? That's you...Your fears, your doubts and insecurities all lined up like a firing squad ready to shoot you out of the sky.

But don't lose heart

While they aren't easily defeated, they are far from invincible. 

Remember this is The Grind.

The Battle Royale between you and your mind, your body and the devil on your shoulder who's telling you that this is just a game, this is just a waste of time, your opponents are stronger than you.

Drown out the voice of uncertainty with the sound of your own heartbeat.

Burn away your self doubt with the fire that's beneath you.

Remember what you're fighting for.

And never forget that momentum is a cruel mistress, She can turn on a dime with the smallest mistake.

She is ever searching for that weak place in your armor, that one tiny thing you forgot to prepare for.

So as long as the devil is hiding the details, the question remains,"is that all you got?", "are you sure?"

And when the answer is "yes". That you've done all you can to prepare yourself for battle THEN it's time to go forth and boldly face your enemy, the enemy within.

Only now you must take that fight into the open, into hostile territory.

You're a lion in a field of lions…

All hunting the same elusive prey with a desperate starvation that says VICTORY is the only thing that can keep you alive.

So believe that voice that says " you CAN run a little faster " and that " you CAN throw a little harder " and that " you CAN dive a little deeper" and that, for you, the laws of physics are merely a suggestion.

Luck is the last dying wish of those who wanna believe that winning can happen by accident, sweat on the other hand is for those who know it's a choice, so decide now because destiny waits for no man. And when your time comes and a thousand different voices are trying to tell you you're not ready for it, listen instead for that lone voice in decent the one that says you are ready, you are prepared, it's all up to you now.

So rise and shine.

Sabtu, 02 Mei 2015

Renungan di Awal Bulan



     Benar atau Salah? Anda sendiri yang menentukan. Karena ini semua adalah sebuah opini. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.

Selasa, 21 April 2015

Produktif ?

     Pentingkah berpikir? Pekerjaan yang harus dilakukan dengan terdiam, meskipun ada juga orang yang harus bergerak untuk berpikir. Sayangnya orang yang duduk terdiam itu seringkali diasosiasikan dengan tidak bekerja, nganggur, dan malas-malasan.
     Saya sendiri sering kesal kalau tidak menghasilkan sesuatu. Harus nulis. Bahkan membacapun kadang saya anggap tidak produktif. Artinya saya sendiri tidak menghargai berpikir. Membaca pun karena sembari lalu. Mengisi waktu luang,sekedar membuang waktu, ketika mencoba untuk mereview,ternyata tidak ada yang saya ingat. Kok bisa?
     Saya adalah penggemar koran. Ada 2 koran wajib baca yaitu Jawa Pos dan Kompas,belum lagi membaca via internet. jarang saya lewatkan. Tapi sebagian besar hanya saya konsumsi sendiri. Tidak dapat diolah dan menjadi sesuatu yang produktif bagi lingkungan maupun sesama. Mungkin saya harus mengurangi kegiatan membaca saya? Memulai mengaplikasikan apa yang telah saya baca. Bukan hanya mengkonsumsi melainkan menjadi produktif ataukah membaca sebagai tempat pelarian saya? Bisa saja.


NB: Tulisan ini saya kutip dari https://rahard.wordpress.com/ Untuk detail tidak sempat saya catat dengan detail karena saya berpikir tulisan iki untuk bahan bacaan saya pribadi Berhubung karena tulisan ini menarik perhatian saya,saya simpan di draft saya cukup lama untuk coba saya kembangkan dalam bahasa saya sendiri. Ternyata tidak mudah. Tapi bisa. Semoga bermanfaat dan yang punya tulisan tidak keberatan dengan beberapa kalimat yang saya comot mentah-mentah.

Jumat, 16 Januari 2015

Definisi Orang Sukses

     Orang sukses itu umumnya adalah ahli dalam menyederhanakan masalah hidup. Sehingga ia selamat dari perdebatan,argumen,perbedaan pendapat,dan keragu-raguan yang tidak perlu.
     Ia memotong serangkaian masalah dengan solusi yang dibutuhkan oleh semua orang.

~Michael Korda~

Rabu, 14 Januari 2015

Kutipan

     Kutipan ini saya ambil dari Broadcast BBM Bapak Xavier Quentin Pranata,seorang pendeta dari HFC (Happy Family Center)Surabaya. Semoga menjadi berkat bagi orang yang membacanya.

"Batu permata yang paling bermutu adalah waktu "
"Kita seringkali lupa bahwa mukjizat Tuhan seringkali terjadi justru dalam kejadian keseharian" 
"Ketika kamu takut untuk menghadapi masa depan,  hadapilah pemegang masa depan."
"Bukan panjang pendeknya usia yang terpenting namun bagaimana kita mengisi kehidupan dengan memberikan hidup."
"Jika kita tidak bisa menjaga emosi,kita pasti merusak reputasi."
"Ada yang memberi buku,ada yang menghadiahi pembatas buku. Tetapi bagian terpenting adalah membaca buku itu dan mengamalkan isinya." 
 
 

Selasa, 16 Desember 2014

Kata-Kata Bijak Master Cheng Yen



  • Hidup ini singkat,jangan digunakan untuk debat,lebih baik jaga martabat agar hidup menjadi berkat,
  • Ucapkan kata-kata semangat,agar sepanjang hari bisa menarik rejeki,relasi dan sahabat.
  • Setiap orang punya sisi baik dan buruk,bicarakan kebaikannya jika di depan umum,tapi ingatkan keburukannya di ruang privat
  • Marah adalah Racun mental,jika diumbar secara asal akan membuat pelakunya terpental.
  • Jangan biasakan dusta,karena ia akan membawa sejuta derita di belakangnya.
  • Jangan pikirkan lagi ucapan orang lain,buanglah kedalam tong sampah agar pikiran menjadi bersih untuk menjadi peraduan mimpi.
  • Orang yang suka bicara kasar,hidupnya akan nyasar ke belukar yang bersuasana sukar.
  • Berbicara sopan bisa dilatih,mulailah berbicara hal-hal yang etis,positif dan bermanfaat.
  • Orang pintar harusnya menggunakan kepintarannya untuk berbagi bukan mengakali.
  • Kata-kata yang menyakitkan tidak mudah dilupakan pendengarnya. Karena merasuk ke hati bukan ke telinga saja.
  • Kalau bicara jangan keras-keras. Selain tidak sopan anda jadi terkesan tidak berkelas.
  • Kala ibadah,pejamkan mata dan lihatlah ke dalam,apa yang masih perlu dibersihkan agar ucapan dan tindakan tidak lagi menyakitkan.
  • Orang baik tidak akan mematahkan semangat,ia bahkan akan menjadi berkat untuk bangkit dan berjaya.
  • Ketika berdiskusi jangan paksakan opini,bukankah tiap orang mau dihargai?
  • Ucapan yang terlanjur meluncur sulit mundur,karena itu hati-hatilah ketika bertutur.

Sabtu, 15 November 2014

Inspirasi ?



"Amateurs look for inspiration ; the rest of us

just get up and go to work." 

Amatir mencari inspirasi ; sisanya 

Bangun dan bekerja.

~Chuck Close~

Such a true statement. People often asked me what is my inspiration to write/make music, but in reality I find that 'inspiration' is a byproduct of discipline... simply getting up everyday and planning, plotting, listening to great music, strum the guitar or play the piano and simply DO the work. Sometimes, inspiration is the act of pulling the chair to our working desk. We don't wait for inspiration to come, we just have to go after it with a hammer.

Quote by Sidney Mohede

Selasa, 04 November 2014

Simple Quotes

Do Not Ask God To Guide Your Step

If You Aren't Willing To Move Your Feet

Jangan Meminta Tuhan Untuk Menuntun Langkahmu

Jika Kamu Tidak Ingin Menggerakkan Kakimu

Minggu, 02 November 2014

Menentukan Arah Kehidupan

Direction is much important than speed. Many people are running fast heading nowhere...

Lebih penting menentukan tujuan daripada kecepatan. Banyak orang berlari kencang tanpa arah.

If you can learn this #SimpleTruth, it will save you a lot of heartache in the future. Focus on where you're heading, not how fast you can outrun everyone. 

Jika kamu dapat memahami pernyataan sederhana ini,itu akan membantu memecahkan permasalahan di kemudian hari. Fokus kemana kamu akan menuju,bukan seberapa cepat kamu dapat melampaui orang.

Sidney Mohede 11 Oktober 2014

Minggu, 26 Oktober 2014

Seperlima Pertama

     Puisi ini diciptakan oleh seorang anak yang sedang melakukan pertukaran pelajar ke Prancis dengan judul Seperlima Pertama. Ketika membacanya ada suatu energi kerinduan dan rasa antusias. Seorang pelajar SLTA yang sedang berjalan di ruang zona nyamannya.

Meninggalkan rumah lalu
mendapatkan rumah baru

bertumbuh dan mengakar,
merangkak dan mengejar

menyerap dan menyimpan,
mencari dan menemukan

rasanya baru sekejap lalu
tapi sudah terbungkus dunia baru

rasanya cuma bisa dibilang cuma
tapi harus diakui semua beda

(looking forward to more adventures & knowledge yet to be discovered)

Senin, 14 Juli 2014

Tanda dan Solusi Penderita Depresi

Ciri-ciri:

  • Dada bergetar,keringat dingin dan kebelet BAB(buang air besar) karena peningkatan kerja saraf otonom saat depresi
  • Saat depresi,orang mudah kaget lantaran waspada yang berlebihan
  • Hampir semua orang yang bertipe perfeksionis alami depresi
Solusi :

  • Sadari bahwa pekerjaan apapun bisa membuat depresi
  • Rilekskan diri dengan berlibur,turunkan tingkat keparahan depresi
  • Sadari kemampuan diri,kenali kepribadian dan cintai pekerjaan membantu mencegah depresi
Sumber dr. Agustina Konginan SpKJK
Jawapos tangal 21 Juni 2014

Selasa, 15 April 2014

Tips Menulis dan Mengedit tulisan ala Raditya Dika

 1. Kasih jarak dulu
Sebelum mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu. Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak terlihat sewaktu sedang menulis dulu.
2. Lebih padat lagi!
Bagi gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih “padet”. Gue akan coba menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di naskah ada tulisan: “Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke sana atau tidak.” Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan menulisnya seperti ini aja: “Gue bingung ke sana apa enggak.” Kalimat dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak terasa “sesak” dan “ramai”.

3. Kurangi kalimat pasif
Gue pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: “Ketimun itu diambil Edgar” akan gue ganti menjadi “Edgar mengambil ketimun”. Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan.
4. Speaker attribution
Speakter attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam kalimat langsung. Misalnya “kata Edgar”, atau “kata gue”, atau “kata Nyokap”. Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution dengan sebuah kegiatan.
Misalnya:
“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,” kata Edgar.
“Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?” tanya gue.
“Mau, Bang! Mau!” kata Edgar.
Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:
“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Cukup, Bang!” Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!”
Gue mengeluarkan dompet, “Tapi, Gar… Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?”
“MAU BANG! MAU!”
Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.
4. Cek typo
Selalu cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak salah ketik.
5. KISS = Keep It Simple, Stupid!
Gue adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: “Dia harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya.” biasanya gue akan ganti menjadi “Dia harus lebih sering mewujudkan idenya.” Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti “gesture” gue pasti rubah menjadi “sikap”. Sebisa mungkin gue menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif kepada pembaca.

6. Struktur dulu, baru komedi
Karena gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi, biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam tulisan gue sembari gue mengedit.
Buat kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit tulisan kamu.

7. Hindari hal-hal klise
Gak tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan istilah yang klise seperti “Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya”, atau “Dia cewek terindah yang pernah gue lihat”, atau “Gue cinta sama dia setengah mati”. Istilah klise ini selain sudah terlalu sering digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya.

8. Udah kelar? Edit lagi!
Writing is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit kayak gue. Huehehehhe.. Semoga membantu calon-calon penulis yang juga lagi nulis/ngedit tulisannya.

 Sumber:

Kamis, 27 Maret 2014

Merancau Ala Dewi Lestari Mengenai Penulisan

     Tulisan ini saya ambil dari tweet @deelestari. Saya Mencoba mengarsipkan apa yang dibagikan oleh para penulis terkemuka ketika mereka berbagi tips dalam menulis. Dan inilah tips menulis ala Dewi Lestari.
  • Level 1: belum pernah menulis tapi mau belajar. Di sini berguna menulis sebanyak-banyaknya, baca sebanyak-banyaknya. Kuantitas dulu. Yang dicari wawasan kreatif.
  • Level 2: sudah menulis tapi jarang selesai. Di sini teknik jadi berguna. Menulis dengan tujuan, dengan struktur dan kerangka.
  • Level 3: sudah menulis tapi ingin meningkatkan kualitas. Di sini menulis tidak lagi jadi perkara mudah. Bukan lagi kuantitas. Teknik level presisi.
  • Jadi pembelajaran menulis memang sebaiknya bertahap. Tergantung kita sdh sampai di mana, dan tujuannya mau ke mana.
  • Tantangan setiap level beda-beda. Seperti makan Mak Icih. Jangan rakus di awal, jangan pula terlena di akhir. Karena pembelajaran terus berjalan.
  • Untuk buka wawasan kreatif, baiknya jangan loncat langsung ke menulis karya, tapi melatih pikiran peka dulu pada ide.
  • Jurnal atau diary adalah pelatihan baik di awal. Tapi jangan berhenti di situ. Begitu diary mau jadi buku, tetap harus pakai teknik dan struktur.
  • Di level 2, penulis sudah mulai ngeblog, self-publish, atau menulis 1-2 buku. Saatnya menajamkan kualitas. Jangan terlena.
  • Level 3 sebetulnya lebih "berbahaya". Penulis sudah cukup mapan, punya pembaca setia. Di sini penulis bisa mentok kalau berhenti mengembangkan kualitas.
  • Kalau kita sudah tahu sudah sampai level mana, kita bisa bikin tantangan sendiri. Contoh: di level 1, baca 1 buku/minggu, bikin 1 blog +/- 400 kata/minggu.
  • Di level 2: bikin karya dengan deadline. Contoh populer: gerakan NaNoWriMo (bikin 1 novel +/- 50.000 kata dalam 1 bulan)
  • Di level 3, keluar dari comfort zone. Cerpenis mencoba menjadi novelis. Novelis pendek (<50.000 kata), coba bikin yang >75.000 kata.

Minggu, 23 Maret 2014

Jangan Menilai Sesuatu Dari Penampilan

Tulisan Copy Paste dari seorang teman.
Suatu hari seorang pemuda datang ke tempat Guru yg terkenal akan kebijaksanaannya. Ia bertanya, "Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda, berpakaian apa adanya & sangat sederhana.Bukankan disaat seperti ini penampilan yg bagus sangat diperlukan untuk banyak tujuan?"
Guru pun tersenyum, lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu berkata, "sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi kamu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini & bawalah ke pasar yang ada di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya dengan harga 1 keping emas?"
     Melihat cincin yang kotor, pemuda itu merasa ragu.Ia bergegas kepasar, menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, sayur, daging & ikan, serta kepada yang lainnya mereka menawar dengan harga 1 keping perak.Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya. Ia kembali & melapor kepada sang guru.
     Guru sambil tersenyum arif berkata, "sekarang pergilah ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas disana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."
      Pemuda itu bergegas lalu kembali dengan raut wajah yg lain, ia melapor bahwa ternyata pedagang di pasar tidak tahu sesungguhnya nilai dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga 1000 keping emas. Nilai cincin ini 1000 kali lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh para pedagang di pasar.
     Guru tersenyum sambil berkata "Itulah jawaban atas pertanyaanmu sobat muda,seseorang tak bisa dinilai dr pakaiannya. Hanya para pedagang sayur,ikan & daging di pasar' yg menilai demikian". Namun tidak bagi "pedagang emas" Emas & permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat & dinilai jika kita mampu melihat kedalam jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya & dibutuhkan proses. Kita tak bisa menilai org lain hanya dari tutur kata & sikap yang kita dengar & lihat sekilas.

Sabtu, 08 Maret 2014

Copy Paste

      Tulisan ini bukanlah karya saya,hasil mencomot dari facebook seorang teman,ketika saya lacak melalui google banyak sekali yang memposting tulisan ini. Jadi nikmati sajalah karya ini. Maaf jika mencomot karya orang lain tanpa seijin yang empunya. Semoga tulisan ini menginspirasi.

     Seorang tua merenung,"Dulu saya lahir dari keluarga miskin. Ketika melihat orang kaya, saya bertanya mengapa mereka egois,tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan,bahkan mereka malah memandang rendah orang Miskin. Namun,ketika kemudian saya menjadi kaya karena bekerja keras, "Saya merasa orang miskin itu malas,tidak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, tak pernah berterima kasih."
     Mengapa begini?Tak jarang dalam hidup ini,kita punya standar ganda dalam "Menakar & Mengukur". Kita kerap menilai orang lain dari "takaran" atau pandangan subjektif kita & tidak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu.Kita kerap menuntut orang lain bersikap & berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya.Ketika berbuat salah, kita tak mau dihakimi. Sebaliknya, minta dimaafkan & dibantu keluar dari kesalahan.
     Saat membeli,kita menginginkan barang berkualitas dengan harga bagus & akan marah jika dibohongi.Ketika susah,kita mau ditolong. Dan ingin diutamakan. Apabila kita rindu kebaikan,maka kita harus melakukan kebaikan...Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah,maka kita juga harus memaafkan orang yang bersalah kepada kita...Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu...
     Confucius berujar : Jika kamu tidak suka diperlakukan "jahat" oleh orang lain,maka kamu jangan melakukan "kejahatan" pada orang lain juga pada makhluk lain."