Sabtu, 14 Desember 2013

Konsisten

      Konsisten itu ternyata tidak mudah. Untuk menulis di blog ini secara rutin dan continue sama sulitnya. Butuh motivasi lebih,padahal seharian di depan laptop,browsing,dan tidak melakukan apapun,tapi ketika harus mengetik sesuatu bingung mau menulis apa. Akhirnya yang ada di otak sekarang aja yang saya tulis. Ide betebaran dimana mana,tetapi ketika disuruh menulis langsung kosong isi kepala. Ngaku penulis tapi malas nulis,gimana mau maju? Ya dipaksa maju. Semoga besok dapat ide bagus buat nulis...

Jumat, 13 Desember 2013

Ability

Kalau bisa sepenuhnya, mengapa setengah-setengah?

Kalau bisa menjadi yang terbaik, mengapa menghalangi upaya?

Kalau bisa mendapatkan yang lebih baik, mengapa berhenti di secukupnya?

HARI INI, CUKUP ITU CEPAT KURANG.

Biaya kehidupan naik, kehidupan semakin pelik dan mahal, jarak menjadi semakin jauh, perjalanan semakin panjang, dan ketidak-sabaran semakin liar.

Kita harus mampu.

Hanya mencukupkan upaya, telah terbukti kurang.

Lebihkanlah upaya, sehingga Anda mampu membiayai kehidupan yang lebih lega dan menabung untuk masa-masa gagal panen.

Belajarlah dari semut.

Semut bekerja keras di masa sulit, agar hidup tercukupi di masa yang lebih sulit.

Semut tidak mengharapkan pemberian mudah, dan tidak marah kalau tidak ada yang memberinya gratisan.

Marilah kita menjadi manusia yang hidup penuh penghormatan kepada diri sendiri.

Marilah kita hidup dengan sepenuhnya.

Sumber: Mario Teguh – Loving you all as always

Zona Abu-Abu

Takaran Dosa?
  •  Bagaimana cara tahu lebih besar mana dosa dan pahala seseorang?
  • Siapa yang bakal menimbang besarannya?
  • Siapa yang membuat takarannya?
  • Bisakah kita menakarnya? 
  • Mencuri seribu rupiah apakah dosanya lebih ringan daripada yang mencuri hingga milyaran rupiah?
  • Menyumbang dengan berkoar-koar bukankah sama saja dengan kesombongan yang terselubung?
  • Tahu seseorang melakukan kejahatan tapi tidak melakukan apapun melainkan hanya diam saja. Apakah sama saja dengan menjadi pelaku kejahatan?
  • Selingkuh dengan diam-diam atau menikah dengan dua istri. Dosa?
Sekedar pemikiran di siang hari. Seperti membedah benang yang sudah tipis tapi harus terus dibelah. Tidak akan menemukan jawaban absolut,selalu akan ada pro dan kontra.

Kamis, 12 Desember 2013

Rumah Duka Part 2

     Hal yang menyedihkan dimanapun termasuk rumah duka adalah apabila yang meninggal orang yang tidak punya uang,suguhan makanan sedikit,papan turut berdukacita hanya satu ataupun dua bahkan tidak ada. Sepi pengunjung.

Jadi teringat akan pembicaraan dengan mantan bos saya.
"Tuh lihat kalau orang tidak punya uang,yang datang aja sedikit!" Ujarnya.
"............" Saya memilih untuk bungkam.

"Lihat kalau orang kaya meninggal,yang datang banyak,papan nama bersebaran sampai overflow." Lanjutnya
"............" Diam,sembari menyadari realita yang terjadi.

"Buka dua ruangan pun sampai tidak cukup,tamu datang silih berganti,bandingkan dengan yang tidak punya uang,yang datang tidak ada,musik penghiburan tidak ada,yang menangisi pun tidak ada."Cerocosnya.
"..........."

"Lihat peti matinya dari kayu jati,harganya mahal hingga ratusan juta,bukti keluarganya sayang. Keluarganya menangis sembari meraung-raung."
" Apa indikatornya selalu dengan sesuatu yang kasat mata?" Ujarku dalam hati.

"Yang mengantar ke tempat persemayaman terakhir diiringi oleh banyak orang,dikawal oleh Patwal setelah acara persemayaman maka dilanjut acara makan-makan,kalau orang tidak punya uang? Boro-boro diiringi oleh banyak orang, anak sendiri saja belum tentu mengiringi. Makan-makan apalagi,paling juga sehabis dikubur pulang ke rumah masing-masing." Pungkasnya.

     Tidak semua orang memandang hal sama seperti yang dipandang oleh mantan bos saya,tapi itulah pandangan baru bagi saya,bahwa setiap orang baik besar maupun kecil memandang,menilai sesuatu dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Gap yang menganga tampak terlihat jelas,perbedaan antara si kaya dan si miskin. Itulah realita kehidupan.

"Tidak ada orang yang ingin meninggal miskin,meninggalkan hutang."Tutur Mrs M.

Tanpa bermaksud mengurui. Ucapan Bill Gates "Manusia lahir tidak dapat memilih ingin lahir dari keluarga kaya atau miskin. Itu bukan kesalahan mereka. Tetapi apabila seseorang meninggal dalam kemiskinan,itu adalah kesalahan mereka sendiri." Ini jawaban saya dari dalam hati.

Rabu, 11 Desember 2013

Rumah Duka Part 1

     Apa sih yang disebut rumah duka? Tempat untuk berduka? Tempat penghormatan terakhir? Atau tempat sekedar untuk makan minum sembari bercengkrama?
     Baru saja dari rumah duka Adi Jasa,mengunjungi kakek teman yang baru meninggal. Disana tersebar papan nama penuh akan orang yang turut berbelasungkawa. Sekedar info untuk mengetahui orang itu penting atau tidak,golongan terpandang atau tidak cukup melihat papan nama yang ada,semakin penuh ruangan akan papan nama maka semakin terpandanglah orang tersebut.
      Di sisi  lain terjadi pergeseran yang cukup aneh untuk saya pribadi dimana dahulu ketika orang meninggal di rumah duka disediakan kacang,kwaci,minuman gelas kemasan,dan snack-snack ringan. Sedangkan sekarang makanan berat pun tersedia,mulai dari sop merah,soto,nasi goreng dan hidangan berat lainnya. Tergantung penyelenggara. Dan yang paling lucu adalah ada semacam stand kopi yang memberikan minuman secara gratis. Dalam hati saya bertanya ini promosi terselubungkah di tengah orang yang sedang berduka? Bergeserkah makna dari RUMAH DUKA?
      Apanya yang berduka? Jika disibukkan dengan aktifitas makan yang tidak selesai-selesai atau disebabkan tidak mau rugi karena sudah memberi uang duka cita. Ingin balik modal dengan makan sekenyang-kenyangnya. Orang yang meninggal tidak saya kenal,bagaimana mau berduka? Menunjukkan rasa simpati dengan kehadiran saya? Ah sudahlah,mungkin saya yang masih muda belum mampu untuk merasakan apa yang dimaksud dengan duka itu sendiri

Hujan Di Pagi Hari

      Pukul enam pagi sudah hujan,saat sebagian aktifitas rutin belum dimulai. Membuat malas untuk melakukan sesuatu. Ah,mungkin hanya aku yang begitu. Yang lain tetap bersiap untuk melakukan kegiatan rutin mereka. Ini bukan soal mood,ini soal komitmen dan dedikasi.
     Mengapa hujan tidak terjadi pukul sembilan pagi saja? Disaat aktifitas perkantoran dimulai,sudah sampai di kantor dengan selamat. Jika Tuhan dapat didikte,mungkin kekacauan akan terjadi. Bagaimana nasib marketing? Yang pekerjaan sehari-harinya berada di jalanan.
     Mau beraktifitas atau mau melanjutkan tidur itu balik ke pribadi masing-masing. Hanya tiga hal yang pasti yaitu waktu terus berjalan. Bumi terus berputar. Matahari terus bersinar.

Selasa, 10 Desember 2013

Bangun Pagi

      Nikmatnya hari ini ketika bangun pagi merasakan embun pagi,dinginnya udara pagi,segarnya oksigen yang dihirup ditemani kicau burung dan suara ayam berkokok yang sayup-sayup terdengar di wilayah saya bermukim.Mengingatkan akan suasana masa kecil di Bandung dimana jarang terdengar suara motor,mobil,yang ada hanyalah para pejalan kaki,becak,kokok ayam di pagi hari. Yang kini suasana itu tidak bisa didapatkan kecuali berada di pedesaan.
     Sudah hampir 2 tahun jarang bangun pagi semenjak pekerjaan tidak mengharuskan untuk bangun pagi.Disebabkan gaya hidup tidak sehat saya dimulai tidur jelang subuh dan bangun antara jam delapan pagi hingga sepuluh pagi. Dimana waktu produktif saya adalah jam sebelas malam keatas.
     Resolusi tahun depan mungkin saya akan menormalkan jam tidur saya. Bergaya hidup sehat diimbangi dengan olahraga. Semoga bisa terlaksana.

Senin, 09 Desember 2013

Aspirasi Generasi Y (Gen Way)

     Kutipan ini saya dapat dari majalah SWA yang ketika saya renungkan ternyata saya pun mencari hal tersebut secara tidak sadar.
Aspirasi-aspirasi gen Y::
  • Kesempatan meraih prestasi pribadi (self-achievement)
  • Kesempatan berkontribusi sosial pada masyarakat
  • Kesempatan mendapatkan insentif yang bermanfaat bagi keluarga
  • Kesempatan memperoleh tantangan yang berbeda-beda.

Minggu, 08 Desember 2013

Insane

Insanity is doing the same damn thing over and over and expecting a different result

Senin, 02 Desember 2013

Loper Koran Indragiri Surabaya

     Bagi yang sering melewati jalan Indragiri arah Mayjen Sungkono Surabaya di pagi hingga sore hari,pasti tahu apa yang akan saya ceritakan. Di perempatan lampu merah,tampak penjual koran yang memakai tongkat. Tulisan kali ini saya mencoba mengisahkan penjual koran ini.
     Setiap hari saya selalu melewati jalan ini dan berpapasan dengan penjual koran ini,satu hal yang saya kagumi adalah ia selalu berjualan koran dari pagi hingga siang hari,terkecuali ketika hujan ia tidak kelihatan berjualan. Hal yang menarik adalah ia berjualan sejak lama dengan memakai tongkat. Saya berpikir kenapa tidak minta-minta aja menjadi pengemis? Hanya perlu modal tampang memelas ingin dikasihani,apalagi dengan tongkat di tangan. Saya yakin banyak yang iba.
     Tetapi ia berbeda,ia menjadi loper koran setiap hari di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Saya tahu karena saya setiap hari selalu melewati jalan tersebut. Ia membawa koran di dengan alat bantu yang diikatkan di tubuhnya. Dalam hati saya bergumam,"hebat ya."Jika saya dikondisikan seperti itu mungkin saya memilih mati,atau tinggal di rumah minta dikasihani,tak mau berbuat apa-apa,hanya minta dilayani.
     Hal paling mendasar yang saya dapatkan dari orang ini adalah ia tidak menyerah pada keadaan dan menurunkan derajatnya menjadi seorang pengemis,ia memilih bekerja apa yang ia bisa lakukan. Secara tidak langsung orang menjadi respek terhadap dia. Saya yakin banyak orang yang membeli koran kepadanya dan kembaliannya silahkan diambil. Tetapi orang yang memberi tersebut merasa rela dibandingkan memberi kepada pengemis yang karena keterpaksaan disebabkan rasa tidak nyaman akan kehadiran mereka.
     Walaupun jualan koran dibandingkan menjadi pengemis lebih besar penghasilan pengemis,apalagi baru saja ada berita pengemis membawa uang kontan sebesar 25 juta rupiah,yang hasil penyelidikan polisi adalah hasil meminta-minta selama beberapa minggu.
     Hal terakhir yang ia lakukan adalah selalu mengucapkan kata ajaib dengan lantang "terima kasih"disertai dengan senyuman yang tulus. Senyum dan ucapan terima kasih bagi saya sudah sangat jarang sekali saya temukan di lingkungan saya. Bagi saya sendiri itu adalah setetes embun yang menyegarkan.Pertanyaan saya untuk pembaca,sudahkah anda tersenyum hari ini? Saya sendiri belum.