Tampilkan postingan dengan label Pertanyaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanyaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2015

Minim Prestasi,Gila Eksistensi

     Eksis di dunia nyata maupun maya membutuhkan pengorbanan yang besar. Terkadang saya tak habis mengerti orang yang ingin eksis tapi minim prestasi. Bukankah dengan prestasi maka eksistensi akan nampak?
     Ada segerombolan anak muda,ingin tampil di restoran mahal,demi mengambil beberapa gambar,memakan waktu beberapa jam tapi hanya memesan satu gelas minuman. Memalukan menurut saya,Butuh ketebalan muka yang diluar kewajaran demi eksistensi. Normalkah? Ingin eksis tapi tidak mengetahui kapasitasnya. Hanya ingin dipuja dengan kalimat "bagus ya,keren ya,asyik ya tempatnya" dan lain sebagainya.
     Tidak peduli dengan cemoohan,gunjingan orang,yang penting eksis. Sebuah ironi. Itu hanyalah sekelumit pergaulan anak muda yang saya temui. Haus akan pengakuan. Akankah hal itu abadi? Tentu tidak,paling lama 1 minggu orang sudah melupakannya. Dunia superficial.
     Media massa pun turut andil dalam "mengompori" hal semacam ini. Prestasi jarang di blow up  media massa,sedangkan berita murahan minim prestasi dan pengetahuan memiliki porsi besar dalam penayangannya.
     Apakah anda termasuk kategori cerita di atas? Minim prestasi,gila eksistensi.
     

Sabtu, 22 Maret 2014

Nasib Binatang Liar ditengah Keramaian Kota


Foto Kucing Tergeletak

     Ketika dalam  perjalanan,melihat kucing tergeletak di samping trotoar jalan, iseng-iseng saya memotret, mengamati sang kucing sembari menunggu munculnya lampu hijau. Cukup lama saya perhatikan. Tidur? Atau meninggal? Dalam perenungan siapa yang melihat kucing ini? Tidak ada,hanya saya, diantara puluhan pasang mata yang berada di lokasi tersebut.
     Tak bergerak,rongga dadanya tak mengembang maupun mengempis. Hanya tergeletak tak begerak. Tak ada bekas tertabrak, walaupun seringkali saya melihat kucing terlindas mobil hingga semua isinya terburai, tak tega untuk melihatnya. Siapa juga hendak menyingkirkannya? Layaknya seonggok sampah yang terbuang. Berharap pasukan kuning untuk membersihkannya.
     Semakin tak berempatikah manusia ditenggah hiruk pikuknya kota? Saya pun hanya mengamati dan memfoto tanpa melakukan apapun, hanya berpangku tangan mengharapkan orang lain untuk membersihkan bangkainya

Rabu, 05 Maret 2014

Bagaimana Menyikapi Kematian ?

     Baru saja dapat kabar,ayah dari teman saya meninggal,padahal baru saja berbincang-bincang menanyakan kabar,semuanya tampaknya lancar,sehat tanpa ada masalah.Penyebab meninggalnya adalah terjatuh dari kamar mandi,ketika dilarikan ke UGD dinyatakan meninggal dunia.
     Usia seseorang tidak ada yang tahu,hanya Tuhan yang memegang kendali walau manusia bisa mempercepatnya melalui bunuh diri,makan makanan tidak sehat dan lain sebagainya.
     Lebih baik meninggal perlahan-lahan atau meninggal secara tiba-tiba? Jika meninggal perlahan- lahan seperti terkena kanker ,tumor,stroke berat,ataupun koma maka akan menjadi beban bagi keluarga. Belum tentu sembuh,tapi sudah pasti mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk berobat. Kalau uangnya banyak tak ada masalah kalau tidak? Bahkan ada yang berujar "orang miskin dilarang sakit." Ke rumah sakit perlu uang,diperiksa dokter memerlukan uang,beli obat pun tak lepas dari uang.
     Jika meninggal cepat,seperti stroke kemudian meninggal,kejadian tak terduga seperti kecelakaan, gempa bumi,tsunami,longsor,banjir ataupun sesuatu diluar kuasa manusia, maka histeria,keterkejutan pada orang yang mendengarnya bak terkena petir di siang bolong. Tapi proses akan lebih cepat,walau kemungkinan trauma akan terjadi.
     Manusia menginginkan kematian yang normal,tetapi masih adakah yang meninggal secara normal? Satu-satunya jawaban meninggal karena faktor usia. Banyak orang tua yang berusia lanjut,masih bisa hidup tetapi sudah dioperasi berbagai macam,mulai pasang ring,dipasang alat bantu pernafasan,dan berbagai macam alat bantu seperti kursi roda. Apakah itu masih bisa dikatakan hidup?
     Tulisan ini akan berkesan tidak sensitif terhadap keadaan,tapi ini adalah pandangan saya pribadi yang coba saya tuangkan.Meninggal baik cepat atau lambat yang terpenting adalah merelakan dan mengetahui bahwa manusia itu pasti akan mati. Tidak ada satupun yang akan luput dari kematian. Begitu banyak orang yang tidak merelakan kepergian orang yang mereka kasihi,meratapi,bahkan menangisi hingga berminggu-minggu maupun bulan. Tak ada yang salah,tapi waktu terus berjalan ke depan,masih ada hidup yang perlu dijalani bagi mereka yang bernafas,menyongsong kehidupan hingga ajal menjemput.

Jumat, 21 Februari 2014

Keluhan Pengeluh

     Perlukah mengeluh? Bagi beberapa orang mungkin perlu. Jika dilihat dari gender,perempuan mengeluh hanya minta untuk didengarkan,berbeda dengan pria yang membutuhkan solusi.
     Jika dikategorikan,mengeluh masuk kategori manakah? Negatif atau positif? Silahkan tentukan sendiri.
     Mengeluh itu mengeluarkan unek-unek biar tidak dipendam terus,jika dipendam terus malah jadi penyakit. Tapi siapa yang mau jadi pendengar setia? Pendengar setia ya pasti konselor. Profesi yang dibayar untuk mendengarkan permasalahan sembari memberi solusi bagi yang mau mendengarkannya.
     Mengeluh itu terkadang minta dikasihani. Yang mendengarkan terkadang tidak tahu harus berbuat apa. Toh memberi rasa iba saja tak berguna (menurut saya). Cuma berkata "kasihan ya..."Omong kosong apa lagi itu.
     Mengeluh pun harus memilih kepada siapa harus memberi keluhan. Salah sasaran bukan dukungan yang didapat,malah dorongan untuk terjerembab semakin dalam.
     Sebenarnya paling enak berkomunikasi kepada Tuhan melalui doa,sembari berharap mendapat bisikan. Siapa tahu menemukan solusi tepat guna. Tapi tidak semua orang peka,bahkan yang berdoa pun menjadi bingung,ini bisikan Tuhan atau bisikan setan?
     Termasuk keluhankah tulisan saya ini?

Kamis, 23 Januari 2014

Andai Superman Nyata

     Andai tokoh superhero karya DC comic yang diidolakan banyak orang yaitu Superman nyata,apakah yang terjadi?
     Ketika saya merenung,sempat terbesit dalam hati,apabila ia berkelahi dengan para musuh,tembok bangunan jebol,jalanan retak,jendela perkantoran pecah,bangunan roboh. Untuk memperbaikinya butuh waktu berapa lama? Berapa uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan?Akankah Superman membayar ganti rugi atas kerusakan yang telah ditimbulkannya?
     Kepada siapakah ia harus berpihak semisal terjadi peperangan antara Korea Utara dan Korea Selatan? Kerusuhan di Thailand antara pendukung kaos merah ataukah kuning,akankah ia turun tangan? Apakah ia menjadi pendukung Amerika karena ia lahir di sana? Ataukah ia menjadi Dewan Kehormatan di PBB?
     Ketika Timur Tengah bergejolak akankah ia turut berperang? Apakah rahasianya akan aman ketika berubah menjadi Clark Kent,ditengah maraknya aksi penyadapan dan kasus mata-mata antar negara.
      Bisakah ia menjadi Clark Kent ataukah selamanya menjadi Superman tanpa memiliki jatidiri yang lain? Apakah ia akan dijadikan Tuhan oleh para penggemar fanatiknya? Akankah manusia tetap mempercayai Tuhan apabila Superman itu nyata? Karena ia berasal dari planet Krypton bukan dari bumi.
     Bisakah ia mencegah tsunami,banjir,longsor,badai maupun topan yang terjadi di setiap belahan dunia?Atau mungkin meredakan amukan dari gunung-gunung di Indonesia yang siap meletus kapan saja?
     Sayangnya Superman itu tidak nyata,andaikan ia nyata,saya beranggapan kita akan memiliki ketergantungan secara berlebihan terhadapnya.

Selasa, 31 Desember 2013

Menulis

     Apa hebatnya sih bisa menulis? Bagi beberapa teman saya menulis itu pekerjaan membosankan,tidak berguna,dan yang terutama tidak bisa menghasilkan uang 'banyak'. Ada yang bisa memberikan contoh penulis yang kaya raya? Walaupun kaya pun relatif.
     Saya tidak mau berargumen dengan seseorang mengenai uang. Karena sekarang orientasi selalu menuju ke uang. Tidak menjurus ke passion atau gairah hidup. Teman saya pun saya katakan berkecukupan tetapi mereka boleh dibilang kerja karena terpaksa,tidak mencintai apa yang mereka kerjakan. Hanya memburu uang,tidak ada yang lain. Melihat si A gaji besar,sirik. Lihat si B jabatan naik dengki,yang paling lucu kalau hari senin berkata I hate Monday. Sedangkan jika hari jumat Thanks God it's Friday.Dimanah kesenangan dalam bekerja?
     Mereka yang berburu uang tidak pernah puas,selalu penuh dengan keluhan,derita nestapa,ratapan yang menindikasikan rasa tersiksa. Datang kantor jam 8 pagi pulang jam 5 sore,senin hingga jumat bahkan mungkin sabtu pun harus masuk. Lembur mengerutu,begitu ada tanggal merah semangat langsung membuncah,sedangkan jelang masuk kerja malah lemas,tak bergairah.
     Saya sekarang mengeser orientasi bekerja untuk memenuhi gairah hidup saya. Membaca itu nafas saya,menulis itu baru-baru saja saya dapatkan untuk mewadahi apa yang saya pikirkan dan dapatkan dari membaca. Saya ingin menjadi penulis yang ketika dipertanyakan berapa lama jam bekerja anda? Maka dengan keyakinan tinggi saya berkata saya tidak pernah bekerja,saya hanya menulis apa yang saya lihat dan rasakan lalu saya menuangkannya di tulisan.Saya tidak pernah 'bekerja'
     Menulis itu tempat saya untuk mengeluarkan unek-unek yang ada di benak. Setiap hari saya selalu mendapatkan hal baru,melalui pengamatan,permasalahan yang terjadi di kehidupan saya,kelucuan di tempat kerja,kondisi jalan raya,dan berbagai macam hal lain jika saya tuangkan di dalam tulisan satu hari penuh belum tentu selesai. Dari situ saya belajar menulis dengan runut,mencoba melatih kosakata,menambah perbendaharaan kata. Sehingga tidak monoton. Itu adalah kepuasan pribadi yang tidak bisa dapatkan. Di masa sekarang ini,orang semakin apatis,tidak perduli dengan sekitar,hanya mementingkan diri sendiri walaupun tidak semua orang seperti itu.
     Menulis adalah ajang melatih kreatifitas. Bagaimana agar tulisan tidak membosankan,menarik minat pembaca,yang suatu saat tulisan ini akan berguna bagi orang lain. Menulis adalah ajang berbagi,berbagi pemikiran,pandangan,maupun wawasan. Blog ini tidak hebat-hebat amat. Masih memerlukan masukan dan kritik yang banyak Tapi suatu saat nanti impian saya blog ini berguna bagi orang banyak,saya percaya menulis akan menghasilkan sesuatu,baik itu materi,ataupun kepuasan batin. Soal kaya itu bisa menyusul.
     Pertanyaan terakhir sebelum tidur. Jika anda kaya apa yang anda lakukan? Makan,tidur,belanja,dan tidak bekerja? Jika anda menjawab kalau kaya nanti dipikir lagi,arah dan tujuan hidup anda saya katakan masih hampa.Jika tidak kaya mengerutukah anda setiap hari,berharap ada hujan uang?

Note: Tulisan ini saya buat tengah malam,jika saya tidak memilih gairah akan menulis mungkin saya memilih untuk tidur,menonton televisi. Apa passion anda?

Rabu, 25 Desember 2013

Memaknai Natal

     Apakah aktifitas natal anda? Makan-makan bersama keluarga,pergi ke gereja,bekerja walaupun hari libur,atau hanya bersantai di rumah?
     Apa makna natal bagi anda sendiri? Waktu berkumpul bersama saudara seiman,acara tahunan yang rutin dirayakan,momen 'wajib' setiap tahun untuk datang ke gereja,atau tidak ada maknanya? Bagi saya pribadi tidak bermakna. Hanya aktifitas rutin setiap tahun. Merayakan natal itu merayakan kelahiran Kristus. Mungkin saya perlu bertobat karena menulis tulisan ini. Jika dianggap tidak bermakna mengapa juga saya mengaku Kristen. Bisa dimaki seluruh dunia dan ditertawakan. Tetapi bukankah lebih baik jujur terhadap diri sendiri daripada munafik? Yang ujungnya alasan klasik di atas.Merayakan kelahiran Kristus.
     Tetapi pada kenyataannya apa yang dilakukan? Bersikap apatis terhadap lingkungan.Menjadi batu sandungan,menjadi hakim untuk menuduh seseorang baik atau buruk,dan terakhir hanya menjadi penonton,bukan menjadi pelaku firman.
     Bertepatan dengan natal,saya pun lahir ke dunia ini. Walau bisa dianggap lahir bertepatan dengan kelahiran Kristus,tapi kalau bercermin rasanya beda jauh. Yang satu sempurna sedangkan saya penuh cacat cela. Saya mencoba memaknai segala hal yang terjadi hingga saat ini. Yang saya perlukan mungkin pengenalan pribadi akan Tuhan,bukan hanya sesuatu yang berlandaskan nalar/logika.
     Mengapa saya harus mempercayai Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat? Mengapa tidak ke yang lain? Apakah saya ini orang yang hanya berkata percaya hanya di mulut? Atau saya malah menjadi batu sandungan.
     Semoga tulisan ini sedikit mengusik nurani maupun iman anda.Karena pertanyaan ini bersifat personal,masing-masing dari kita seharusnya sudah bisa menjawabnya ketika anda berkata "saya percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat." Selamat natal 2013.

Senin, 23 Desember 2013

Produktifitas

Membaca dan berpikir itu termasuk kategori produktif atau aktifitas membuang waktu?
Jika produktif ,dapatkah kedua hal tersebut diukur?
Ataukah termasuk proses untuk menjadi kreatif ? Walau belakangan malah merasa tidak produktif dan kreatif karena melakukan 2 hal tersebut.
Kreatif/pemalas?

Sia-siakah para filusuf jaman dahulu berpikir dan merenung?Atau hanya orang yang kurang kerjaan yang mau melakukan 2 hal tersebut?

Percakapan yang sering saya dengar ketika mengajukan 2 pertanyaan ini.
"Suka baca buku?"
"Lebih baik tidur daripada baca buku,bikin ngantuk."
"Suka engga berpikir/merenung?"
"Ngapain juga dipikirin,lebih baik dijalani,mengalir saja seperti air."

Yang nulis lagi bingung,yang baca jadi ikutan bingung. Tar kalau ada kesempatan bakal saya edit,biar lebih mudah dicerna.Tulisannya tidak enak dibaca. Cuma ingin posting kebingungan saja. Bingung rame-rame kan lebih baik. Siapa tahu ada solusi.

Minggu, 22 Desember 2013

Doa

Macam-macam jawaban doa :
  • Ya
  • Tidak
  • Nanti/Tunggu 
     Jika Doa langsung dijawab 'ya' atau 'tidak',maka tidak ada permasalahan. Tetapi kalau disuruh 'nanti/tunggu' sabarkah anda menanti? Atau berpaling ke yang lebih cepat menjawab doa anda?

Jumat, 13 Desember 2013

Zona Abu-Abu

Takaran Dosa?
  •  Bagaimana cara tahu lebih besar mana dosa dan pahala seseorang?
  • Siapa yang bakal menimbang besarannya?
  • Siapa yang membuat takarannya?
  • Bisakah kita menakarnya? 
  • Mencuri seribu rupiah apakah dosanya lebih ringan daripada yang mencuri hingga milyaran rupiah?
  • Menyumbang dengan berkoar-koar bukankah sama saja dengan kesombongan yang terselubung?
  • Tahu seseorang melakukan kejahatan tapi tidak melakukan apapun melainkan hanya diam saja. Apakah sama saja dengan menjadi pelaku kejahatan?
  • Selingkuh dengan diam-diam atau menikah dengan dua istri. Dosa?
Sekedar pemikiran di siang hari. Seperti membedah benang yang sudah tipis tapi harus terus dibelah. Tidak akan menemukan jawaban absolut,selalu akan ada pro dan kontra.