Sabtu, 30 November 2013

Warung

     Tulisan ini saya buat untuk mbak Fifi,yang katanya tulisan saya ini sukar dipahami,dari awal hingga akhir. Yang saya sendiri bingung yang sukar dipahami dibagian mananya.
     Di depan rumah saya ada warung yang dagang setiap hari dan saya katakan sepi pembeli tapi ramai pengunjung alias tamu yang datang hanya untuk mengobrol. Saya rasa pemilik warung tersebut berdagang sembari mengisi waktu luang karena warungnya menyatu dengan rumah dan buka tutup semau yang punya warung.
     Setiap hari warung tersebut disantroni oleh pengamen. Pengamen yang saya kategorikan sebagai preman terselubung dengan ciri suara pas-pas an,bergitar,dan bernyanyi sampai dikasih uang,maksa lagi. Kalau tidak dikasih bakal nyanyi terus.
     Saya suka menghitung,kalau sehari pengamen datang lima orang dan kelima orang tersebut dikasih uang lima ratus rupiah,maka warung secara langsung sudah merugi dua ribu lima ratus rupiah. Dan apabila dikali tiga puluh hari maka akan mengeluarkan biaya tujuh puluh lima ribu rupiah. Belum apa-apa sudah tekor duluan,memang nasib pedagang harus modal dulu bagaimanapun juga.
     Warung kini kian tergusur dengan minimarket yang memiliki kelebihan antara lain ber-AC,self service.Tinggal bayar di kasir. Beres,tidak pakai lama.
     Keunggulan warung yang paling mencolok dibandingkan minimarket yaitu bisa HUTANG. Mana ada minimarket bisa bayarnya pakai hutang?
     Satu-satunya keunggulan warung yang tidak dapat terbantahkan adalah hubungan yang akrab antara pedagang dan pembeli,baik itu warung kopi,warung makan,maupun warung sembako. Dibandingan dengan karyawan minimarket yang terasa sangat kaku ketika melayani pembeli. Mungkin bukan melayani dengan hati,melainkan hanya karena tuntutan pekerjaan.
     Interaksi lebih banyak terjadi ketika ada di warung.Walaupun sekarang sudah semakin tergerus oleh sikap individualistis dari masing-masing kita. Di warung tersebut banyak orang bercakap-cakap,entah apa yang dibahas karena saya sendiripun hanya mengamati dari jauh.Mungkin pemandangan ini tidak akan saya temukan di perumahan-perumahan elite di Surabaya. Haruskah saya bersyukur akan hal ini? Mungkin iya.Karena warung di depan rumah saya bisa membuat tulisan ini.

Jumat, 29 November 2013

Ide

      Sedang kekeringan ide ketika di depan laptop. Padahal kalau lagi tidak ngapa-ngapain ide-ide bermunculan. Untuk menangkap ide kadang harus ditulis secara acak-acakan dulu,supaya  tidak lupa. Akhirnya cari-cari artikel tentang ide untuk bikin penulisan ini.
     Kalimat Deddy Corbuzier mengenai ide.“Dalam 2 x 24 jam ide harus diwujudkan, karena kalau tidak, ide yang mulanya bagus akan terlihat bodoh. Kalau menunda, yang ada kita malah memunculkan antitesa atau alasan untuk tidak melakukan ide tersebut.”
     Setiap hari kita selalu berpikir dan ide-ide akan bertebaran,tetapi benar apa yang dikatakan Deddy,begitu tidak diwujudkan atau dicatat,maka hal itu hanya seperti angin lalu. Jadi siapkah anda mengaplikasikan ide-ide yang bermunculan?

Kamis, 28 November 2013

Cepat Kaya Atau Cepat Miskin ?

      Dari dulu saya selalu berpikir,gimana sih cara paling cepat kaya atau miskin? Tanpa memandang passion,panggilan jiwa,etika,maupun yang berdampak bagi lingkungan,bangsa maupun negara jawabannya saham,forex,indeks.
      Bagi banyak orang apa yang sebut di atas itu tempat judi legal,ada yang menang,ada yang kalah,karena ada permintaan ada penawaran. Apakah pandangan itu salah? Tergantung siapa yang memandang dan siapa memberi jawaban.
    

Rabu, 27 November 2013

Debat

     Akhir-akhir ini acara debat terbuka di stasiun televisi semakin banyak. Debat mulai dari polemik urusan rumah tangga,politik,kebijakan pemerintahan,dan lain sebagainya. Yang di akhir debat,saya merasa debat tersebut tidak berguna,satu pihak membela mati-matian keputusan,dan di lain pihak menentang dengan nada tinggi,tanpa mau mendengar pemikiran dari pihak lain. Dan dipenghujung acara tidak menghasilkan sebuah kesepakatan apapun.
     Apakah begitu sukarnya membuat sudut pandang dari perspektif yang sama melalui debat? Menjelek-jelekan kebijakan orang lain tidak pernah membuat orang yang menjelekan tampak bagus,hanya mencela dan menjadi apatis. Membuat orang menjadi memiliki keberpihakan antara yang satu dengan yang lainnya. Bertengkar dengan mulut,jika emosi tidak tertahan maka baku hantam pun tak terelakkan.
     Katanya negara demokrasi,tapi bila tidak sepaham langsung saja sikat,Negara beragam kultur tapi memandang dengan kacamata kuda,politik membuat yang sederhana menjadi tampak rumit, apakah rakyat menjadi tampak bodoh? Ataukah mereka yang sedang berdebat yang membuat diri tampak terlalu pintar?
     Masih layakkah disebut negara demokrasi,bila satu narasumber berbicara,apabila tidak senang,langsung saja potong pembicaraannya. Timbali ucapannya,dan kalau bisa jangan kasih kesempatan lawan berbicara. Pamer pendidikan,gelar tapi minim etika? Inilah cerminan negara yang katanya DEMOKRATIS ?
     Tanpa kerendah-hatian debat tidak akan menghasilkan apapun selain polemik dan membuat penontonnya untuk berpihak. Jangan bilang pula tidak usah ditonton,melalui debat saya bisa belajar banyak hal. Cara berbicara,bagaimana menahan emosi, pengetahuan baru,sudut pandang berpikir yang baru. Saya sendiri berharap kita semua tidak apatis tanpa melakukan apapun dan hanya mencela. Saya belajar untuk menikmati arti kata demokratis itu sendiri. Semoga kalian juga menikmatinya walaupun hanya menjadi penonton.

Senin, 25 November 2013

Kolom Duka Cita

     Baru-baru saya ada ketertarikan baru dalam membaca koran. Saya suka membaca kolom duka cita. Melihat siapa yang meninggal. Dahulu saya hanya suka baca koran bagian Olahraga. Sisanya kalau sempat dibaca,kalau tidak sempat ya sudah biarkan saja.
     Sebelum ini mantan atasan saya,hobinya juga melihat kolom dukacita. Saya pikir ngapain juga melihat hal seperti itu,engga penting !! Sekarang saya baru tahu apa pentingnya kolom dukacita itu yaitu untuk mempublikasikan kepada banyak orang bahwa seseorang meninggal tanpa perlu memberitahu satu per satu kerabat dan kawan maupun saudara.Cukup baca saja koran tersebut tanpa perlu banyak berkoar-koar.
     Kadang dari situ kerabat yang tidak kita ketahui rimbanya tiba-tiba nampak. Dari pengalaman saya pribadi,ada teman yang orang tuanya baru meninggal,saya baru tahu dari kolom tersebut karena sudah lama tidak bertemu. Dan dari sana pula saya tahu usahanya apa,rumahnya dimana. Karena di kolom duka biasanya pada kop kolom ada nama perusahaan atau toko orang yang meninggal tersebut,disertai dengan alamat tempat tinggal sekarang.
      Hal yang membuat saya kagum adalah satu halaman penuh di sebuah media cetak akan berita dukacita,disertai dengan nama-nama perusahaan yang turut berduka cita. Bahkan bisa mencapai 3 halaman. Dari situ tampak betapa kolom dukacitapun dapat dijadikan ajang unjuk gigi maupun simpati bagi orang yang memiliki uang.
     Ah,sudahlah mungkin saya hanya bisa sirik akan hal tersebut karena satu halaman di media cetak untuk berdukacita bisa memakan gaji saya selama satu tahun. Tapi yang pasti dengan hobi baru saya ini mungkin saya disadarkan bahwa siapapun tidak menghindari ajal yang menjemput,baik kaya atau miskin,tua maupun muda,kelak akan kembali menjadi debu,tanpa membawa apapun....

Logika Judi

     Pernahkah anda berjudi? Kebanyakan menang atau kebanyakan kalah? Saya mencoba menjelaskannya secara logika kepada anda.Judi itu hanya masalah probabilitas,anggap saja Timnas Indonesia melawan tim nasional dari Inggris. Tim manakah yang bakal menang?
     Banyak pasti yang memilih timnas Inggris. Karena secara kasat mata Inggris pasti menang jika ditilik dari postur tubuh,tradisi sepakbola,dan lain-lain. Jika judi bola semudah itu maka tidak akan ada yang namanya BeWin,WilliamHill dan perusahaan yang menjadi bandar perjudian.
     Jika perjudian tidak ada vor-vor an. Maka peluang menang anda jika memilih Inggris 50:50. Dengan asumsi skor imbang maka uang kembali. Disinilah peran bandar bermain. Mereka menciptakan yang disebut handicap atau bahasa lainnya vor-voran.
     Handicap ini adalah semacam syarat bagi para petaruh yang memilih Inggris sebagai pemenang. Anggap saja voor 2. Voor 2 adalah apabila Inggris menang 2-0 dianggap draw,skor 1-0 untuk kemenangan Inggris tapi tetap bermakna kekalahan bagi petaruh. Jadi syarat bagi petaruh untuk menang adalah dengan skor kemenangan 3-0 untuk Inggris,atau selisih 3 bola. Boleh 4-1,5-2 dan seterusnya maka petaruh akan menang.
      Handicap biasanya disertai dengan tambahan uang apabila petaruh mengalami kekalahan. Anggap saja seseorang bertaruh untuk Inggris sebesar sepuluh ribu dengan uang tambahan 10% apabila kalah. Maka apabila Inggris kalah maka petaruh harus membayar kepada bandar sebesar seratus sepuluh ribu. Tetapi apabila petaruh menang maka akan dipotong komisi sesuai dengan kesepakatan yang biasanya 5%.
     Apabila kita mencermati dengan seksama,maka peluang petaruh apabila memilih Inggris bukan 1:1 tetapi 1:5.
  • Skor 0-0 = Kalah
  • Skor 1-0 = Kalah
  • Skor 2-0 = Draw
  • Skor 3-0 =Menang
  • Skor 0-1 = Kalah
     Disinilah peluang bandar lebih besar untuk sebuah kemenangan dibandingkan dengan petaruh. Disinilah peran psikologi bermain. Dengan nama besar Inggris,siapa yang berani mendukung tim sendiri? Padahal secara tidak langsung ketika pertandingan dimulai anda sudah kalah dahulu karena skor 0-0 pada awal pertandingan. Pertandingan 11 orang melawan 11 orang.jadi bagaimana bandar bisa bangkrut? Apalagi bandar yang memiliki banyak petaruh,tidak semua petaruh akan memilih Inggris mungkin juga memilih timnas,apabila diklopkan,keuntungan bandar sekitar 5-10%.
      Saya pun tertarik akan satu hal. Siapa yang menentukan Handicap,bagaimana mereka bisa membuatnya? Hingga saat ini informasi akan hal tersebut masih belum bisa saya dapatkan. Apakah mereka membentuk tim khusus untuk berhitung,membuat rumus yang sistematis? Hanya perusahaan yang bergerak di bidang judi yang mengetahuinya.
     Pada akhirnya judi itu kembali pribadi masing-masing,tetapi masih banyak orang yang menggantungkan nasib dengan berjudi,berharap keberuntungan datang kepada mereka dengan bertaruh. Memperoleh uang dengan dengan mudah.
     Sekarang pun Bandar Internasional yang berasal dari Thailand,Singapore maupun Malaysia mulai menyasar Indonesia sebagai pasar potensial yang belum tereksplorasi seluruhnya. Sekian dulu tulisan saya untuk topik judi ini. Semoga bermanfaat.

Minggu, 24 November 2013

What I Feel Right Now....

Pertanyaan ini saya dapat dari Buku Your Job is Not your Career karya Rene Suhardono.
  • Apakah kamu happy ? No
  • Do You feel happy? No
  • When the last time you feel happy? When i didn't think about money.
  • Puas dengan apa yang dicapai? No
  • Puas dengan apa yang telah anda kontribusikan? TIDAK
  • Puas dengan pemanfaatan waktu,talent, dan energi yang telah kamu miliki? TIDAK
"If you take the attitude that what you have is what you need to make you happy,you will happy! Happiness is here and Now"


Jumat, 22 November 2013

A Leader Is A Dealer In Hope

          Baru saja mendapatkan Quote tersebut dari Bong Chandra waktu mengikuti seminar. Kalimat tersebut setelah saya selidiki quote milik Napoleon Bonaparte. Kalau di indonesiakan mungkin bahasanya seperti ini Pemimpin adalah penjual harapan.
          Kenapa pemimpin adalah penjual harapan? karena bagi para pengikutnya mengikuti apa yang pemimpin harapkan akan membuat mereka memperoleh sesuatu yang lebih baik di masa depan. Harapan itu  indah,harapan akan masa depan yang lebih baik,pendapatan yang lebih baik. Berkaca dari pengalaman saya sendiri,harapan itu yang membuat seseorang kuat. Maka jangan berhentilah BERHARAP.

Selasa, 19 November 2013

The 20 Mistakes You Don’t Want To Make In Your 20s

Your 20s compose undoubtedly the most pivotal time in your life. While there are plenty of temptations and distractions, the decisions you make here are truly what dictate your future, as the weak fail and only the strong survive.
Do you have what it takes to become a monumental success? Or will you live out a life of mediocrity? The choice is up to you. While many think they have all the answers and the keys to success, we have seen those people make the same pitfalls too many times before.
This is the time for you to hustle, scrap and fight for the life that you want for yourself. You manifest your own destiny during these crucial years.
Every move you make is a test. Don’t f*ck it up. These are the 20 Mistakes You Don’t Want To Make In Your 20s.

20. Working for money, not for building your dreams

Never do anything just because it’s convenient for you. Look to challenge yourself and build your own dream instead of building someone else’s. Even if it doesn’t exactly make sense now, create something with great value so you can cash out big.
Always look to the future and never for immediate compensation. What are you going to do with those weekly wages anyways? Stop being so entitled and pretending like you deserve cash, prizes and vacations just yet. You will soon realize once you’ve made it that making money doesn’t make you happy. It’s the journey.

19. Thinking that this is the right time to fall in love

While all of your friends might be doing it, don’t fall into the trap of a relationship. Sure it seems like the right thing to do, but your 20s are entirely too crucial for your personal growth for you to be focusing on fulfilling the wishes of another individual.
Not only does it make you complacent with where you are in life, but it makes you boring. When your business is at stake and your future is resting on your shoulders, the last thing you need is to be bogged down by an insecure lover rushing you home.
Get out there, meet new people, test the limits and have fun. It will take you to the places you’ve only dreamed of going.

18. Trying to act like the man rather than learning how to become one

Instead of going overboard on the Gucci monogram and bottles in the club, as if you just signed to Rocnation, spend that time focusing on your career.
Every second counts and if more time is spent pretending to be the person you want to be instead of becoming that man, then you’ll sink in quick sand without even knowing it.
A real man is willing to make sacrifices. If you aren’t down to put in the work, then please don’t act like you are. You can enjoy the success when you actually attain it.

17. Making friends instead of earning trust

The in-crowd may be tempting, but you’ll probably fall victim to surrounding yourself with social climbers. We know you feel entitled to celebrate, but please relax. It’s never attractive when you act as though this is the last time you’ll ever see this in life.
Make connections with people based on trial and error, not presuppositions and drunk ranting about what they can do for your business.
If you ever want people to take you seriously, then you have to take them seriously. Just because you think you trust someone doesn’t always mean you can. Heed any red flags in the past before jumping into any kind of venture with them.

16. Not caring because you only live once — that’s for fools

We all are guilty of irrational decision-making in our 20s. Fast people and fast times with money in your pocket always lead to over-extending yourself.
A life of partying, heavy drugs and pretty much having that YOLO attitude will leave you flat on your ass. Get focused and lock into what you’re supposed to be doing. If you don’t know what that is, then you better figure it out ASAP.

15. Making all your wants, needs

Expensive women and cheap thrills coupled with the expensive sneakers should not be on the list of your needs. Setting the foundation for your business and team is far more important than updating your wardrobe and chasing sex.
Distinguish between what you want and what you actually need. Make sure your priorities are in tact or you will lose your track.

14. Forgetting that family comes first

Those who supported you before anything deserve to be taken care of when you reach your success. If you aren’t doing this for the ones you love, then you’re not doing it right. Family comes first, no matter what happens. If you work for whom you love instead of just yourself, you will get far.

13. Blaming anyone else but yourself for anything in life

Hold yourself accountable for everything. At the end of the day, all you have in the world is yourself — so go hard. Don’t look to anyone for answers and instead of making problems, create solutions.
Whether it was that job you wanted, the funding you needed or the love you think you can’t live without, there is no one that can be held accountable in this universe except for you.

12. Getting comfortable like you actually deserve down time

Unless you’re chilling with Victoria’s Secret models in Monaco this weekend, you shouldn’t even be thinking about taking a break anytime soon. You need a vacation?
What have you accomplished? Mark Cuban spent seven years building out his first business before he even took a break. Don’t get lazy now.

11. Sticking with jobs that didn’t teach you anything

A bad job is like an unhealthy relationship. Truthfully, the only reason you’re there is because it is the safest and easiest thing you know.
Any job or relationship that allows for you to get comfortable should be avoided at all costs. The last scenario you could ever want is becoming like the rest of those miserable 40-somethings faced with weekends of minivans and soccer practice.

10. Following the crowd instead of forging against it

You can be aware of the trends, but never follow them. If all your time is spent trying to adjust to your surroundings, you’ll get lost in the crowd all the more easily.
Success and greatness are constructed by trendsetters themselves, not those who latched on to what’s currently trending. We hope that you don’t have any aspirations to look like your favorite rapper. Temptation to be influenced by those who you aspire to be like is easy, but no one finds his or her calling while following in the footsteps of another.

9. Failing to energize those around you

Although you may sometimes think there is a lack of talent in your networks — this is never the case. It is your sole responsibility to inspire, encourage and drive those around you to succeed.
Failing to do so only confirms that you fall victim to that which you accuse others of. Change and greatness can be sparked everywhere, but bring it upon yourself to trigger it.

8. Thinking you need to stop learning and growing

You have more zeros at the end of your bank statement and stamps in your passport than you had ever imagined. Don’t consider this your victory lap, but rather as a taste of greatness. Do you live to enjoy the moments you dreamed of or a lifetime of unimaginable success?
The common misconception that once things are in your favor, you no longer have to put in the 3:00AM work hours is a dangerous problem. The fewer nights that you’re willing to put in the work, the fewer opportunities you will have to celebrate your achievements in the future.

7. Thinking that anyone will ever pay you back

Your 20s will be accompanied with a slew of poor investments by both you and those around you. Whether rich or poor, there will always be someone in your circle that will need a helping hand. If you ever think you’re going to see that money again, you’re sorely mistaken.
If there were a plan of action and re-investment, then the truth is that you will not see $1 back. Times are tough, especially in your 20s and finding a route back to financial freedom is often seen only when winning the lotto or signing your first deal with Ca$h Money Records.
Of course miracles do happen, but the probabilities that you’ve essentially given the money away are far too high.

6. Investing in relationships with the wrong values

Your love life is an investment — and the smarter the deals you execute, the savvier of an investor you become. Instead of navigating through an ambiguous investment in which you shower your lover with cash and prizes for existing, make sure he or she will demonstrate positive returns. Your love life should have a solid ROI.

5. Holding on to friends that waste your time and add no value to your life

You’ll be sucked down into the abyss right with them if you don’t cut the fat of the group. Family and friends could have been great to you as a child, but if they no longer hold the value and inspiration that is needed for you to thrive in life, then cut them loose.
The only individuals you should be surrounding yourself with are those that challenge your ideas and motivate you to find the next solution to your problems. No, not the pessimistic assh*les who shoot down your ideas with their negativity, but rather the ones who genuinely want to see you succeed no matter what you do in life.

4. Forgetting about the piggy bank and spending every dollar you have

If our check is for $9, then we’re most likely spending $30. Between credit cards, school loans and every other avenue for attaining a quick dollar, our need for immediate gratification is worse than ever.
The truth is it’s about making more money, not saving it. But at the same time, if you have no means for expanding your revenue channels, then you must be able to save a few dollars here and there. No one likes to have to walk to work because he blew every dollar at LAVO.

3. Not wrapping it before tapping it

If you don’t want to have a child then you better limit your excuses. As vulgar as it may sound, sometimes there are only a few options in life, so you must avoid all potential margins of error.
The road to success is not paved with having responsibilities of children and your future wife to be. This is a somewhat lonely journey that you must take by yourself and those you love will be able to celebrate with you after.

2. Dating unstable people with mommy and daddy issues

We need to control the invincibility we all feel when it comes to both men and women. Whether she’s a stripper or he’s a frat bro, we feel the need to be the knight in shining armor for our lovers.
As chivalrous as this may seem, we hate to break it to you, but you will never be able to change anyone. By setting yourself up for a losing battle, you’ve only ensured your misery for the next few months. She’s clingy for a reason, don’t be her Dr. Phil. And if he doesn’t have ambition now, he never will.

1. Forgetting that karma is a huge b*tch

Whether it’s burning bridges with people you loved, stealing your friend’s girlfriend or plotting against an ex-partner, we must always remember that karma is the biggest b*tch we’ve ever met.
There is nothing more true than the fact that whatever goes around comes around, and you are not immune to the cosmic forces that be. We’re not asking you to go on your Mother Teresa pilgrimage, but don’t be surprised when reality catches back up with you and brings you to your knees. Be a good person. You’ll get further in life.

Source:http://elitedaily.com/life/the-20-mistakes-you-dont-want-to-make-in-your-20s/

Senin, 18 November 2013

Lagi-Lagi Judi.

     Tiap hari selalu ada saja pemberitaan di media massa baik koran maupun televisi akan penangkapan judi,mulai dari togel,bola,kartu,sabung ayam. Uang puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah dipertaruhkan. Tapi bagi para peminatnya judi tetap saja menarik,walaupun menurut Undang-Undang Negara hal itu dilarang.
     Saya tidak akan membahas mengenai agama. Karena saya pun tidak terlalu mendalami masalah agama,walaupun setahu saya agama pun melarang akan hal tersebut. Mengapa judi tidak dilegalkan? tidak berjudi di indonesia juga masih bisa lari ke Singapura atau Malaysia dimana judi dilegalkan. Pemerintahan disana mendapat devisa,kunjungan wisatawan yang meningkat karena peminatnya ya rata-rata orang Indonesia walaupun semua kembali ke pribadi masing-masing.
     Sudah bukan rahasia lagi apabila pemberitaan penangkapan judi hanya sebatas kelas teri. Yang kelas kakap tidak pernah terekspos. Mengapa demikian? Karena yang kakap mampu "memelihara" orang dalam. Yang anda sendiri pasti mengerti maksud saya.
     Saya pernah hidup di jaman SDSB. Dimana hal tersebut masih dihalalkan oleh pemerintahan jaman dahulu secara terang-terangan. Dibandingkan dengan sekarang yang dimanapun masih hidup walaupun secara tersembunyi dan masih saja ada pungutan liar.
     Saya pun terkadang kagum akan akal-akalan para bandar judi,sebut saja yang saya ketahui yaitu TOGEL(toto gelap). Ini kisah saya di Bandung. di tahun 2004an ada judi legal kata orang-orang di lingkungan saya. Nama permainannya JAYA. Saya pribadi tidak tahu mengapa diberi nama Jaya. Para petaruh diberi waktu hingga pukul 4 sore untuk memasang taruhannya. Dan pengumumannya akan dikeluarkan pada pukul 1 dini hari melalui radio. Bayangkan,melalui radio!!! Pada awal pengumuman akan didengungkan suara lagu khas Sunda,kemudian penyiarnya akan berceloteh tentang nomor yang akan keluar pada hari ini,sembari menambah adrenalin pendengarnya. Seakan kita dibawa ke acara kuis berhadiah puluhan juta rupiah. Entah kenapa akhirnya Jaya ini tutup. Mungkin karena adanya pergantian Kapolri baru yang anti judi.
     Saya mengandaikan jika judi dilegalkan maka pungutan liar tidak ada,pemerintah mendapat untung dari pajak. Banyak orang mendapatkan lapangan pekerjaan. Terlepas dari haram atau tidaknya judi itu sendiri.Itu kan masalah pribadi,mengapa harus diatur sedemikian rupa? RESIKO DITANGGUNG SENDIRI. Toh buktinya Malaysia yang katanya negara yang kulturnya mirip dengan Indonesia maupun Singapura yang negara kapitalis mendapat pendapatan yang sedemikian rupa dari judi itu sendiri.
     Jika ada kesempatan lebih saya ingin menulis dengan detail tentang ragam judi. Mungkin di lain kesempatan