Senin, 06 Januari 2014

Mantan Karyawan

     Baru saja makan malam bersama mantan karyawan.Ia baru 3 bulan keluar dari tempat kerjaku. Kini ia bekerja di perusahaan "Tupperware" sebagai administrasi. Ia berkata sekarang pekerjaannya lebih nyaman, dibandingkan di tempat saya. Tersinggungkah saya? Tidak sama sekali. Saya lebih baik mendengarkan perkataan jujur daripada kata-kata manis.
     Ia mentraktir saya di Iga penyet Lekko di jalan Hr Mohammad. Apakah saya malu ditraktir? Sekali lagi tidak. Mengapa juga malu? Saya tidak meminta,dan ia menawarkan membayarinya. Ritual gaji pertama digunakan untuk menjamu orang. Bukan saya tidak suka ritual seperti itu,tetapi rasanya memboroskan uang. Tapi bagi yang suka "gratisan", why not?
     Sembari makan saya bercakap-cakap dengannya.ini sebagian percakapan saya.
"Bagaimana pekerjaan barunya?"
"Melelahkan tapi menyenangkan.Dibanding tempat kerja bapak yang santai,disini bekerja lebih keras"
"Apa yang membuatnya menyenangkan?"
"Lingkungan kerjanya,tiap hari ada saja kiriman makanan dari pelanggan. Gajinya lumayan,dijanjikan tiap 4 bulan naik 100 ribu."
"Lumayan juga ya setahun naik gaji 300 ribu.Memang gaji awal berapa? "
"Gaji awal 1,7 juta mengikuti UMR tahun kemarin."
"Cukup besar juga."
     Ia bekerja di tempatku dengan gaji 1,2 juta dengan catatan kerja full,tanpa libur,sedangkan di tempat yang sekarang,minggu ataupun tanggal merah dipastikan libur. Saya yakin tidak dapat berkompetisi dalam hal tersebut. Memang bekerja di tempat seperti rumah makan ataupun Plaza/Mall butuh pengorbanan yang lebih. Bahkan ada lelucon bahwa pagi siang sore ataupun malam tidak dapat diketahui apabila kita berada di Mall,yang tampak hanyalah jam dinding sebagai waktu penanda bekerja.
     Saya cukup lama bercakap-cakap dengannya. Ia adalah karyawan terpandai yang pernah saya bawahi. Kalimat-kalimat yang dikeluarkan itu tidak dapat membuat seseorang emosi,walaupun terkadang serasa di kick balik. Cerdas dalam membalikan kata-kata yang saya ucapkan. Bagi saya pribadi cukup menyenangkan ketika bercakap-cakap dengannya. Mungkin karena pengalaman kerja yang cukup lama dalam menghadapi karakter orang. Memang pengalaman tidak dapat dilawan.

Apresiasi

     Perlukah apresiasi dalam berkarya?Ketika tulisan saya dimuat di surat kabar,pujian maupun kritikan masuk ,Menurut saya apresiasi sangat diperlukan,agar semangat untuk menulis tetap berkobar-kobar.
     Ada yang bilang di Indonesia tulisan itu kurang diminati dan dihargai,dibandingkan dengan luar negeri tetapi bukankah salah satu tugas penulis adalah membuat seseorang memiliki niat baca melalui tulisan yang menarik?
     Jika indikator apresiasi penulis adalah uang,lebih baik jangan menjadi penulis,pengusaha lebih terjamin keuangannya.Buku andai best seller membuat isi dompet tebal. Kalau tidak laku?Bakal tergeletak di gudang penerbitan,usang,lapuk,dan menguning.
     Dahulu tulisan dibuat untuk menambah wawasan,memberikan opini,hanya kini kemasan harus dibuat semakin menarik,seperti makanan. dihias,sedap dipandang mata,proses yang memakan waktu lama.Memang susah menilainya. Apa bedanya nasi goreng kaki lima dengan nasi goreng bintang lima? Bahan sama hanya kemasan yang berbeda.

Review Film : About Time


     Apa jadinya jika kita bisa kembali ke masa lalu? Diceritakan Tim (Domnhall Gleeson),seorang pengacara muda yang hidup di London ketika ia berumur 21 tahun ada rahasia yang sang ayah (Bill Nighy) beritahukan ketika Tim berkunjung ke Cornwall. Ia dapat kembali ke masa lalu.
     Maka cerita pun mulai bergulir bagaimana ia memulai mencari cara terbaik untuk mencari kekasih. Trial dan error terus terjadi,tetapi selama ia bisa kembali ke masa lalu maka tidak ada masalah.Film ini tidak selalu mengenai percintaan,ada juga problematika keluarga,layaknya keluarga normal dan efek samping dari perbaikan yang ia lakukan di masa lalu dipaparkan seiring berjalannya waktu.
     Cerita yang mengalir dengan durasi 120 menit tidak membuat saya bosan,selalu ada kejutan-kejutan kecil,sesuatu yang sederhana tapi sangat bermakna. Bagaimana kita menghargai waktu,dan memandang dari sudut pandang yang lain. Bagi pengemar drama romantis film ini tidak boleh dilewatkan. Film ini diberi rating oleh IMDB sebesar 7,8. Sungguh sangat pantas.

Minggu, 05 Januari 2014

Komedi ala Indonesia

     Suka menyaksikan acara komedi di TV? Beberapa presenter membodoh-bodohkan penonton,mengejek fisik,mempertontonkan kebodohan yang membuat seseorang tertawa,dan terakhir banci-bancian. Berkualitaskah?Tidak dapatkah menonjolkan kecerdasan dalam mengolah kata tanpa perlu menyinggung perasaan seseorang? Atau saya yang tidak memiliki selera humor?
     Selama banyak yang menyukainya mengapa juga dipermasalahkan.Semua balik ke rating TV,daripada komedi intelektual tapi rating TV jeblok,ya lebih baik cari yang disukai banyak penonton.
     Daripada berpolemik saya memilih mematikan televisi. Lebih baik mencari hiburan di internet,sesuai selera saya. Karena selera tidak bisa dipaksakan.

Salah satu lelucon yang saya dapat dari Mario Teguh.

Tiga orang yang tidak bisa mengerti humor:
-Orang yang tidak cerdas
-Orang yang sedang stress
-Orang yang terlalu serius

Sabtu, 04 Januari 2014

Pengaruh Lingkungan Terhadap Anak

      Artikel ini saya ambil dari koran Jawa Pos 4 Januari 2014 halaman 8. Penjelasan yang mudah dimengerti,membuat saya memuatnya di blog ini.Semoga bermanfaat.

Dalam suasana penuh toleransi,ia belajar sabar
Dalam suasana pemberian semangat,dia belajar percaya diri
Dalam suasana pemberian pujian secara wajar,dia belajar menghargai orang lain
Dalam suasana kejujuran,dia belajar keadilan
Dalam suasana rasa aman,dia belajar mempunyai kepercayaan
Dalam suasana persetujuan,dia belajar menyayangi dirinya
Dalam suasana penerimaan dan bersabar,dia belajar mendapat kasih sayang dari dunia
Dalam suasana penuh kritik,dia belajar menyatakan salah atau mengutuk
Dalam suasana penuh ejekan,dia belajar menjadi pemalu
Dalam suasana rasa permusuhan,dia belajar berkelahi
Dalam suasana penuh rasa malu,dia belajar mudah merasa bersalah


Selera Makan

     Baru saja selesai menonton acara "Pedas Gila" di televisi. Acara tersebut menayangkan aneka makanan dengan olahan cabai dalam porsi besar.
     Saya bukan pengemar makanan pedas. Ketika menyaksikan acara tersebut,membuat saya merinding apabila disuruh mencobanya.Disamping lambung yang tidak kuat menerima sensasi pedas yang berlebihan,apa nikmatnya makan makanan pedas?Makanan akan tertutup oleh sensasi pedas,hanya itu saja. Tidak ada rasa lain yang dirasakan lidah.
     Saya tidak membenci sambal,tetapi hanya makan secukupnya. Kebanyakan saya memakan makanan plain/netral.Untuk mengetahui kualitas dibalik sebuah masakan,bukankah rasa yang ditonjolkan?
     Ambillah contoh bakso,kuahnya benarkah berasal dari kaldu sapi asli atau dari bahan kimia? Jangan bilang kaldu sapi asli dengan kaldu berbahan kimia sama. Belum lagi MSG yang dituangkan.Ketika akan dimakan,banyak orang langsung menuangkan sambal,tomat,maupun kecap dengan segera. Entah karena itu memang kombinasi yang pas atau hanya ingin merasakan pedasnya.
     Banyak orang berkata masakan Eropa itu hambar dibandingkan masakan Asia yang beraneka ragam bumbu. Kedua-duanya saya menikmatinya. Bagaimana menikmati detail sebuah makanan,dibandingkan Chinese food enak,gurih,tapi apa yang dituangkan tidak ada yang tahu kecuali pedagangnya sendiri. Penggunaan MSG yang berlebihan,penyedap rasa,dan bahan-bahan yang saya sendiri tidak mengetahuinya.Solusi mudah untuk menikmati masakan sesuai selera ya memasak sendiri di rumah.
     Apa kategori makanan yang anda nikmati? Gurih,asin,manis,pedas ataukah yang penting murah dan mengenyangkan?
    

Jumat, 03 Januari 2014

Susahnya Mencari Kepiting di Pasar

Kepiting hidup siap olah



      Jengkel itu perasaan setiap kali membeli kepiting siap makan. Sebagai pemakan segala,favorit saya adalah kepiting. Untuk membeli satu porsi kepiting berada di kisaran 60 ribu-200 ribu rupiah di kaki lima. Apabila di restoran maka hitungannya per gram,tergantung bobot kepiting itu sendiri.
     Saya yang berkantong pas-pasan untuk membeli harus berpikir panjang. Salah satu solusi apabila ingin makan kepiting adalah mencari di pasar tradisonal. Mencari kepiting hidup dan diolah sendiri. Harga lebih murah daripada membeli di restoran atau kaki lima,walau soal rasa berbeda.Teknik yang saya gunakan hanyadirebus.Toh kepiting rebus pun tetap terasa nikmat.
     Anehnya setiap kali saya pergi ke pasar tradisional,kepiting hidup tidak ada.Suatu ketika saya bertanya kepada pemilik "Sari Laut Kapasan" bagaimana ia bisa mendapatkan stok kepiting begitu banyak? Ia berkata ia mempunyai suplier yang menyediakan barang dengan target 1 hari minimal 1 kuintal. Bayangkan,satu pedagang kaki lima menghabiskan 1 kuintal dalam sehari. Di Surabaya sendiri ada berapa banyak pedagang kaki lima yang berdagang kepiting?
     Ia lanjut bercerita,suplier sekarang kelimpungan dengan permintaan yang begitu banyak,belum lagi persaingan dengan perusahaan ekspor yang sekarang menggunakan sistem jemput bola,langsung mendatangi para nelayan untuk membeli langsung tanpa melalui pengepul,semakin ketatlah persaingan. Nelayan senang,perusahaan pun dapat harga lebih murah. Yang sakit hati ya pengepulnya.
     Suply yang tidak tercukupi membuat harga kepiting menjadi naik,persaingan antar pedagang demi menjaga stok barang dagangan pun semakin gencar. Bahkan di waktu tertentu,seperti Imlek (tahun baru menurut kalender China) harga kepiting akan melambung tinggi. Rumah makan akan berlomba menjajakan masakan istimewa berbahan dasar kepiting. Bagaimana agar mereka tetap mendapatkan stok? Mereka membeli lebih mahal dari harga pasaran. Daripada melewatkan sebuah momen yang mendatangkan keuntungan besar.
     Harapan saya untuk memakan kepiting rebus dengan harga murah tampaknya harus tertunda, tampaknya saya masih harus beli kepiting siap makan di tempat langganan saya. Sari laut Kapasan Surabaya yang harga per porsi kepiting (isi 2 buah) dimulai dari 100ribu hingga 240 ribu. Mengecek isi dompet sembari geleng-geleng kepala.

Kondisi Sari Laut Kapasan yang tidak pernah sepi pengunjung.Buka pukul 17:30 hingga 1 pagi.

Menulis Opini

     Ternyata sukar juga menulis sebuah opini dengan target 850 kata. Dibutuhkan usaha ekstra untuk menulisnya. Penulisan tersebut memakan waktu hampir 4 jam. Membuat tulisan singkat dan padat itu gampang-gampang susah,tetapi untuk tulisan 850 kata hampir saja saya kehilangan ide. Mungkin karena belum terbiasa menulis esai dengan satu topik yang spesifik.
     Menulis sebuah opini saya menulis dari berbagai sudut pandang . Berusaha menjadi objektif,tapi namanya opini seharusnya memihak pun tak masalah. Tapi tidak menciptakan musuh bukankah lebih baik? Ataukah apabila tidak berpihak maka tidak ada sekutu?
     Apabila nanti tulisan itu termuat ya patut disyukuri,karena pesaingnya adalah para pakar di bidangnya masing-masing. Bergelar Doktor,Sarjana Hukum dengan pekerjaan yang cukup membuat ciut nyali semacam dosen,rektor dan aneka macam pekerjaan lain. Tapi namanya berusaha minimal dicoba,jika gagal toh tidak rugi apapun. Malah sebagai ajang belajar untuk mengasah kemampuan.
     Sekian dulu penulisan hari ini. Harap-harap cemas. Nanti kalau gagal ataupun berhasil akan saya muat opini saya di blog ini.

Kamis, 02 Januari 2014

Meningkatkan Pengunjung

     Beberapa hari ini saya mencari cara untuk meningkatkan pengunjung blog. Yang sedang tren adalah SOE (Search Optimize Engine). Saya tidak akan membahas tentang SOE karena itu bukan bidang saya,Opsi lain adalah membuat tulisan yang menarik dan banyak.Hal ini lebih rasional daripada SOE menurut saya karena dioptimize sebagaimanapun kalau tidak ada isinya ya tetap saja tidak menarik,datang sekali cukuplah.
     Tulisan menarik itu luas maknanya.Minimal menarik bagi diri sendiri. Selama tulisan itu menarik orang akan datang berkunjung kembali. Kenapa harus banyak? Orang suka akan variasi topik,layaknya sebuah restoran,menu makanannya itu-itu saja orang akan bosan dan malas berkunjung. Jadi buat variasi yang banyak. Toh suatu saat ada tulisan yang laku dibaca,dan ada yang menjadi sebuah arsip kehidupan. Saya tak akan pernah  tahu mana yang akan ramai dibaca dan yang mana yang tidak. Yang penting tulis saja dahulu.
      Yang saya lakukan pada blog ini hanya menulis secara rutin. Itu saja. Pada akhirnya saya berpikir ulang tentang tujuan awal membuat blog adalah merekam ulang apa yang telah saya alami sehari-hari. Tulisan di blog adalah refleksi diri dari pemikiran yang bertebaran,daripada dilupakan saya memilih untuk menulisnya. Pembaca pun lama-lama akan datang sendiri selama saya konsisten. Setujukah anda?

Rabu, 01 Januari 2014

Hari Pertama di Tahun yang Baru

     Hari pertama di tahun 2014. Apa yang telah anda lakukan hari ini? Menikmati hari libur terakhir jelang esok kembali bekerja? Atau telah memulai aktifitas seperti biasa?
     Hari ini saya tetap bekerja,walaupun hanya 1/2 hari. Apa yang saya dapatkan? Saya dapat kabar karyawan saya kecelakaan ketika merayakan tahun baru. Kabar buruk? Tentu saja. Bersimpati tetapi hanya sesaat,ketika mengetahui penyebabnya saya merasa konyol untuk bersimpati. Berkendara secara ugal-ugalan,tidak memakai helm,itu lebih dari cukup untuk tidak bersimpati.
     Tahun baru yang katanya "baru" tetapi tetap saja perayaannya dengan cara "lama." Turun ke jalan,konvoi di keramaian,Bermain kembang api,petasan,mercon bagi saya itu hal wajar,karena merayakan sesuatu yang istimewa, dirayakan sekali dalam waktu satu tahun.
     Tetapi tolong dilakukan secara bertanggung jawab. Kabar di televisi sesudah acara tahun baru sampah berserakan dan menggunung. Siapa yang bertanggung jawab? Pasukan kuning? Bukankah masing-masing individu memiliki peran serta untuk membuang sampah pada tempatnya agar pasukan kuning tidak harus bekerja extra keras setelah perayaan tahun baru? Ataukah karena sampah urusan pasukan kuning maka ya sudah buang saja sembarangan,toh nanti dibersihkan.Sungguh mentalitas yang harus diubah,tanpa bermaksud menggurui.
     Seperti karyawan saya,ketika ia cedera siapa yang kena getah? Bukan hanya saya,tetapi rekan kerjanya yang terkena getah,kerja harus ekstra keras,karena ia tidak masuk.
     Di tahun baru ini semoga setiap dari kita memiliki tanggung jawab lebih terhadap apa yang ada di sekeliling kita. Bukan sikap acuh tak acuh,tak perduli terhadap keadaan yang ada. Mumpung masih tanggal 1 Januari 2014. Mari kita semakin perduli terhadap lingkungan,bukan hanya perduli terhadap diri sendiri. Tertarik untuk perduli?