Sabtu, 10 Januari 2015

Apartemen Atau Rumah Susun ?

     Selalu menyenangkan ketika berkunjung ke apartemen dengan harga dibawah lima ratus juta. Saya selalu menemukan pemandangan yang menarik bahkan terkadang eksentrik.
      Jika anda perhatikan dengan seksama nampak dari jendela ada pakaian yang dijemur. Konyol bukan? Jika ada angin kencang yang berhembus apakah yang akan terjadi? Membayangkannya pun saya tak sanggup.


      Pada foto kedua bahkan lebih parah lagi. Menaruh tulisan di jendela bahwa apartemennya dijual. Lebih dari konyol. Jika ini lantai satu atau lantai dua maka pasti ada yang melihatnya. Saya melihatnya dari ketinggian 25m di atas permukaan tanah. Ketika membuka jendela saya menyaksikan gambar dibawah ini. Siapa yang bisa membaca kecuali orang mengunakan teropong ?


     

Jumat, 09 Januari 2015

Meeting / Rapat. Bergunakah?

     Memasuki pekerjaan baru di dunia marketing,kalimat rapat sering saya dengar bahkan menjalaninya. Untuk beberapa rapat saya terasa membosankan karena materi yang dibahas semua tercantum di dalam berkas yang dibagikan. Tinggal dibaca sendiri di rumah beres. Tanpa perlu mendengarkan pembicara yang membaca isi materi seperti text book, hingga ke titik komanya. 
     Tujuan Meeting/Rapat/Pertemuan atau apalah namanya bermaksud agar peserta menyampaikan pendapat,saran,usul atau pertanyaan. Kenyataannya  peserta hanya bengong,menjadi tukang catat padahal materi yang dicatat sudah ada di dalam berkas yang dibagikan. Bahkan ada materi yang dibagikan jauh-jauh hari tetapi banyak dari peserta yang baru membaca materi ketika akan dibahas. Setelah rapat tersebut berkas tersebut masuk kedalam tong sampah dan yang dibahas pun terlupakan
     Jemu mendengarkan hal-hal diulang,selain membuang waktu,juga membuang energi untuk menunggu selesainya jalan acara. Apakah tidak ada suasana rapat yang menyenangkan,tanpa terkesan kaku dan formal? Hingga sekarang saya belum menemukannya.

Kamis, 08 Januari 2015

Review Taken 3 (TAK3N) Its End Here



     Akhirnya film Taken 3 rilis. Bagi anda yang telah menyaksikan film taken yang pertama maupun yang kedua tentu tidak akan melewatkan serial terakhir film ini.
      Berkisah tentang Bryan Mills (Liam Neeson) yang dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap Lenore (Famke Jansson) mantan istri Bryan , kisah ini mulai bergulir. Pencarian terhadap pembunuh asli Lenore mulai diungkap.
      Kisah pengejaran antara polisi yang dipimpin oleh Franck Dotzler (Forest Whitaker) dan Bryan pun menambah keseruan di dalam film ini. Adegan demi adegan berjalan dengan rapi dan natural.
      Jika anda menyaksikan film ini pertama kali,anda akan terhibur ketika menyaksikannya. Bagi saya pribadi merasa cukup kecewa jika membandingkan film pertama dan kedua karena trik,maupun kecerdikan Bryan tidak terlalu menonjol. Walaupun kejutan demi kejutan ditampilkan di film ini.
     Akhir kata,jika film ini dianggap sebagai penutup serial Taken saya merasa kecewa. Saya masih mengharapkan kelanjutan film ini dengan kisah yang lebih menarik. Walau beberapa film yang dibintangi Liam Neeson memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Bryan Mills.

Rabu, 07 Januari 2015

Tips Mengganti Ban Tanpa Perlu Lama Menunggu


Penggantian ban menggunakan mesin

     Setelah sekian lama,akhirnya saya memutuskan untuk mengganti ban luar sepeda motor karena permukaan ban sudah pecah-pecah. Tanpa sengaja saya menemukan Dokter Ban,toko spesialis penjual aneka merk ban,dengan servis ongkos pasang gratis.
     Saya tinggal memilih sendiri ban yang anda inginkan,tipe dan merk maupun model ban, seperti supermarket,dan mereka akan memasangkannya. Yang menarik adalah pemasangannya bukan manual melainkan menggunakan mesin. Cukup singkat dan tidak menguras banyak tenaga. Saya hanya terperangah menyaksikan alat ini. Begitu sederhana tapi fungsinya sangat membantu manusia.
Membandingkannya dengan cara manual yang terkesan mengeluarkan banyak energi dan juga dapat merusak velg kendaraan apabila tidak berhati-hati.
     Yang terakhir adalah bonus gratis angin nitrogen seumur hidup. Sebuah penawaran sensasional yang tentu tidak dapat ditolak bukan?
     

Selasa, 06 Januari 2015

Kesan Untuk BTPN

     Hari ini saya berkunjung ke BTPN ( Bank Tabungan Pensiunan Nasional) Kertajaya Surabaya. Saya terkesan dengan apa yang ditampilkan melalui dekorasinya.
     Suasananya terasa teduh,dengan lampu berwarna kuning temeram,membuat nyaman,belum lagi dekorasi yang terbuat dari bambu,tidak seperti kantor yang kaku.Belum lagi Office Boy yang menawarkan kopi atau air putih untuk diminum. Mengesankan !
     Dibawah ini beberapa foto yang sempat saya abadikan.

Dekorasi Bambu hampir disetiap ruangan
Tembok dari kayu
Ruang Tunggu

Senin, 05 Januari 2015

Sebuah Pernyataan

     Tulisan ini  dibuat sebagai pernyataan sikap terhadap orang yang mengaku berkomitmen dalam keagamaan. Suatu kali saya berhadapan dengan pernyataan bahwa pemimpin saya sedang kelelahan,kering rohani,tidak adanya pertumbuhan,disertai dengan banyak problematika hidup yang datang silih berganti. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari apa yang disebutnya "pelayanan". Apakah hal itu salah? Maka dengan tegas saya menjawab tidak , karena itu adalah hak pribadi masing-masing individu.
     Apa sih pelayanan itu? Pelayanan itu memberikan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu, berkomitmen dalam melakukannya. Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Karena saya bukan hakim dan saya pun bukan siapa-siapa.Banyak orang yang mendefinisikan pelayanan lebih daripada itu,seperti berkorban waktu tenaga,uang yang secara ekstrem jika bisa selalu ada.
     Pelayanan dalam jangka waktu pendek tentu tidak memerlukan ketekunan yang berlebih,berbeda dengan  jangka panjang,apalagi yang disebut dengan keagamaan. Waktu yang diperlukan adalah seumur hidup. Dan tahukah anda bahwa pekerjaan yang paling membuat stres adalah Pemuka agama? Ia dituntut selalu tampak suci,agung,penuh pengetahuan,dan mampu melakukan berbagai macam hal yang orang lain belum tentu bisa lakukan.
     Ketika ia menyerah,maka banyak yang mencemooh,padahal pekerjaan ini penuh tantangan, dipenuhi dengan ekspektasi berlebih,tanpa menyadari bahwa mereka pun manusia biasa. Disamping mereka memiliki kebutuhan untuk berkumpul dengan keluarga tetapi mereka menjadi milik publik layaknya artis.Maka kebutuhan publik menjadi prioritas. Tampak agung di luaran tetapi secara tak langsung menelantarkan keluarga.
     Untuk sementara sekian penulisan saya.
     

Minggu, 04 Januari 2015

Semakin Berumur Semakin Individual

     Saya menyukai kegiatan individualistis. Mengambil keputusan dengan cepat,tanpa perlu berkompromi,mendapatkan hasil lebih cepat. Konflik pun jarang terjadi karena individual,hal semacam itu terjadi pula dalam kehidupan sosial,jarang bersosialisasi,karena kebanyakan hanya basa basi yang tak kunjung selesai.
     Membandingkan dengan kerja kelompok,pada proses penyatuan idenya kebanyakan memakan waktu. Belum lagi konflik yang terjadi,walau semakin banyak kepala semakin banyak hal yang bisa diperoleh seperti melalui diskusi.
     Terkadang melelahkan untuk melakukan hal tersebut,lebih baik membaca,nonton film atau apapun yang menyenangkan diri sendiri setelah seharian berkutat dengan permasalahan di pekerjaaan. Mungkin usia pula lah yang mengubah hal tersebut. Persahabatan sekarang menjadi nomor sekian,prioritas adalah mencari uang,berkomunikasi dengan keluarga, sahabat menjadi nomor terakhir dalam kehidupan. Itulah proses kehidupan yang tak dapat dilawan.

Sabtu, 03 Januari 2015

Sales,Menjual Barang atau Empati ?

    Pernahkah anda terganggu ketika berada di dalam mall ? Satu hal mengganggu ketika berada di mall adalah kehadiran salesman,walau tak bisa dihindari karena pemilik toko ingin segera mendapatkan pembeli karena banyak kompetitor.
    Bekerjasama dengan yayasan sosial menggunakan mahasiswa sebagai para salesnya sedang marak. Apabila kita membeli item tersebut maka kita turut menyumbang yayasan tersebut. Bagi saya oke-oke saja,tetapi nominalnya tidak disebutkan,dan yang difokuskan adalah memberi sumbangsih kepada mereka yang membutuhkan. Poin yang dijual adalah penunjukkan rasa empati dibandingkan produk yang dijual.
     Jika anda menelusuri lebih lanjut,ternyata mereka adalah marketing semacam voucher makanan seharga 100.000 rupiah,ketika saya telusuri lebih lanjut ternyata sumbangan ke yayasan tersebut hanya 10.000 rupiah,sedangkan marketing dapatt 25%, padahal marketingnya bilang ini untuk tujuan sosial,bla-bla-bla,mereka berucap bahwa mereka adalah mahasiswa yang sedang melakukan tujuan sosial.
     Hal-hal diatas sepertinya telah berubah menjadi trik-trik marketing yang secara tidak sadar menggiring para pedengar untuk membelinya. Ini adalah triknya.
  • Dengan menarik empati terlebih dahulu ,mendeskripsikan para penderita penyakit X,dan anda akan membantu beban mereka melalui pembelian voucher ini.
  • memberikan penawaran sensasional yang mungkin tidak dapat anda tolak. Seperti voucher makanan dan lain sebagainya
  • Pada akhirnya anda akan membeli dengan todongan."Beli 2 atau 3 pak?"
      Hal seperti ini hanya permasalahan pada etika,tapi di dunia seperti sekarang masih adakah hal seperti itu?

Jumat, 02 Januari 2015

Bedugul, Danau Ditengah Gunung


     Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke Bedugul,Bali. Tanpa mencari informasi melalui Google,saya bersama seorang teman memberanikan diri berkunjung kesana hanya berbekal GPS (Global Position Satelit).
     Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 hingga 1,5 jam menggunakan mobil dari Denpasar. Perjalanan ini pun cukup menyenangkan sembari menyaksikan pemandangan yang disajikan,mulai dari sawah hingga bangunan khas Bali.
     Ketika tiba,saya cukup kebingungan karena adanya 3 danau yaitu Danau Beratan,Buyan, Tamblingan. Danau mana yang harus dikunjungi ? Apalagi sinyal ketika berada di sana cukup menyedihkan untuk mencari informasi menggunakan internet. Akhirnya opsi terakhir adalah bertanya pada penduduk setempat.
     Suasana padat pengunjung,apalagi saya berkunjung pada musim liburan. Suasana sejuk ditambah suasana hijau taman,dan pemandangan danau yang terhampar membuat hati bergembira. Harga tiket masuknya 10.000 rupiah. Dan dibawah ini adalah foto yang sempat saya abadikan. Taman bermain disediakan disini untuk mengakomodasikan kebutuhan rekreasi bersama keluarga.





     Saya berjalan hingga dermaga untuk menaiki kapal. Ketika saya mengajak teman saya untuk naik kapal,ia menolak,sehingga saya mengurungkan niat saya. Dilain kesempatan saya akan menaiki kapal  untuk mengitari danau.



Kamis, 01 Januari 2015

Apa Resolusi Tahun 2015 Anda ?

     Tahun 2014 telah berlalu dan kini tahun 2015 telah kita tapaki. Setiap tahun baru kebanyakan dari kita menciptakan resolusi baru untuk dilakukan. Tetapi pernahkah anda menoleh kebelakang untuk melihat resolusi yang kita canangkan pada tahun tahun sebelumnya?
     Kebanyakan resolusi itu kita tuliskan pada awal tahun dan seiring waktu berjalan kita telah melupakan resolusi yang kita canangkan. Itu pun berlaku bagi saya,resolusi yang telah saya canangkan pada tahun 2014 hanya 50% yang telah tercapai,sisanya masih menggantung.
     Resolusi saya sendiri pada 2015 hanya ingin menyelesaikan apa yang tertunda pada tahun 2014 ini,dan berupaya memperbaiki kinerja,terutama dalam menulis blog ini. Blog ini saya upayakan menjadi informasi pengalaman pribadi,dari sudut pandang objektif. Banyak hal yang ingin saya tuangkan dalam blog ini. Hanya permasalahan komitmen untuk melakukannya setiap hari.
      Saya mengucapkan Selamat tahun baru 2015,semakin produktif,semakin menginspirasi.

Catatan tambahan: Humor yang akan saya tulis dibawah ini saya dapat dari teman saya, dan inilah kutipan untuk awal tahun 2015.
" My goal for 2015 is to accomplish the goals of 2014 which i should have done in 2013 because i promise them in 2012 and planned in 2011"
"Goal saya di tahun 2015 adalah menyelesaikan goal pada tahun 2014 yang seharusnya saya selesaikan pada tahun 2013 karena saya berjanji pada tahun 2012 dan merencanakannya pada tahun 2011. "