Google+ Followers

Kamis, 12 Maret 2015

Tantangan Kedua Membuka Rumah Makan : Ragam Tamu

   

     Tahukah anda tantangan selanjutnya dalam menghadapi hal seperti rumah makan? Ya,kepribadian tamu yang beraneka ragam. Ada tamu yang datang duduk berjam-jam hanya membeli air mineral gelas 240cc seharga 1000 rupiah. Apakah menjadi masalah? Bagi saya selama keadaan tidak ramai pengunjung,tak mengapa. Tapi jika ramai,tolonglah pahami saya yang sedang mencari uang. Kalau ingin menunggu lama tanpa mengeluarkan uang,lebih baik di rumah saja. Tidak akan ada yang mempermasalahkannya.
      Belum lagi ada orang yang minta nasi dengan porsi banyak tetapi tidak mau mengeluarkan uang lebih. Ia beralasan badannya besar,jadi minta porsi lebih.Kelakuan itu berulang kali,berkali-kali tidak saya kabulkan tapi masih saja seperti itu. Jengkelnya sampai di ubun-ubun.  MEMANGNYA SAYA YAYASAN SOSIAL ?
     Ada lagi yang unik dan menyebalkan.Seorang tamu meminta air dingin ketika memesan minuman,dan meminta jeruk nipis dalam jumlah banyak. Tahu apa yang ia perbuat? Jeruk nipis tersebut ia peras kedalam air dingin,abra kadabra jadilah es jeruk nipis dengan hanya membayar segelas air putih. IRIT atau PELIT?
     Tamu higienis. Tahukah anda untuk menggoreng ayam yang bagus adalah merendam ayam dalam minyak panas. Untuk merendam ayam memerlukan minyak kurang lebih 3 hingga 4 liter menggunakan wajan besar. Kelakuan salah satu tamu saya adalah meminta minyak gorengnya untuk diganti dengan yang baru. Jikalau pesanannya 20 potong keatas mungkin akan saya kabulkan. Tapi ini hanya 1 potong,saya harus mengganti 3 hingga 4 L minyak goreng !!! Masuk akal tidak sih? Bawa pulang mentahnya, goreng sendiri saja di rumah !
     Tipe tamu tidak mau rugi. Di setiap rumah makan biasanya disediakan tisue di setiap mejanya. Saya ingat sekali kejadiannya,ketika tempat tisue itu penuh karena baru diisi tiba-tiba habis tak bersisa selembarpun. Ternyata tamu tersebut membuka tutup tissuenya dan memasukkannya kedalam tasnya ketika akan pulang. Seakan tidak ada perasaan bersalah sama sekali dengan santainya ia ngeloyor pergi.
     Beberapa tamu saya berkunjung hanya memesan makanan tanpa memesan minuman. Bagi saya mungkin mereka ingin berhemat,karena membeli air mineral tidaklah murah, tetapi yang bikin jengkel adalah membawa minuman dari luar karena berdekatan dengan minimarket maka mereka berbelanja di minimarket. Padahal sumber keuntungan sebuah restoran terletak di minuman. Mungkin itu sebabnya banyak restoran yang ditulisi pada dindingnya DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR !
     Tamu yang paling ekstrem adalah tamu yang saya foto di atas. Datang,meminta ijin untuk duduk, kemudian membuka bekal sendiri dari minimarket,masih sempat untuk meminjam koran untuk dibaca,menonton televisi,walau semua kotorannya ia buang ke tempat sampah dan mejanya bersih,tapi ini contoh yang terkadang tidak masuk sampai di nalar saya.  Saya hanya mendiamkan saja kejadian tersebut. Bagi saya ini hanya menjadi bahan lelucon yang bisa saya kenang seumur hidup saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar