Jumat, 11 Oktober 2013

Coincidence



            Percayakah anda pada sebuah “kebetulan”? Saya sendiri merasa kebetulan itu tidak ada. Yang ada adalah “seseorang” telah mensetting suatu kejadian tersebut. Tapi kembali lagi itu adalah sebuah pandangan pribadi. Baru-baru ini saya mengalami 3 kebetulan yang cukup unik. Kasus pertama mungkin agak lumrah. Bertemu teman lama di sebuah rumah makan di Surabaya. Mungkin bagi beberapa kita beranggapan sudah wajar. Karena tinggal di kota yang sama. Tapi kalau dipikir masuk akal engga sih ketemu jam 23:30 malam,dimana banyak orang sudah tidur lelap dan kita berdua masih mencari makan?
            Kasus ke dua. Bertemu ibu dan adik dari teman baik saya di bandara udara Singapura. Mereka baru pulang dari GuangZhou sedangkan saya mau pulang dari Singapura. Dan saya pulang bersama mereka dalam sebuah penerbangan yang sama di waktu yang sama. Sekedar info saya amat jarang ke luar negeri,karena budjet yang terbatas,dan mereka pun sama halnya dengan saya. Sama-sama dalam tahap berkecukupan.Mungkin beda cerita kalau saya dan mereka sering ke luar negeri. Sedangkan di Surabaya pun saya sendiri jarang bertemu mereka.
            Yang ke tiga. Bertemu  ibu dan kakak dari teman SMP saya di penerbangan menuju Singapura. Yang menarik adalah saya tidak kenal kakak tersebut,dan ibu dari teman saya tersebut saya hanya pernah bertemu 1x saja seumur hidup saya. Jika bertemu di Bandara udara masih dapat dipahami,tapi yang unik adalah bertemu ketika berada di dalam pesawat. Tempat duduk saya di 3C sedangkan mereka di 2E dan 2F. Dalam kondisi seperti itu maka mengingat wajah seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi dalam waktu 2 tahun perubahan wajah dan fisik akan tampak. Tetapi berkat hal tersebut saya jadi bisa berhubungan kembali dengan teman saya ketika berada di Singapura.
            Apa yang ingin saya sampaikan adalah "segala sesuatu tidak ada yang kebetulan"sesuatu terjadi karena Tuhan mengatur hal tersebut. Untuk kasus pertama saya akan mengadakan kerjasama dengan teman saya tersebut karena kesibukan masing masing maka kita susah bertemu. Disitu saya bisa bercakap-cakap kembali dengan dia mengenai masalah tersebut.
            Untuk kasus ke dua saya disadarkan bahwa hidup ini terus berputar,dahulu keluarga teman baik saya dan saya sendiri sama-sama berasal dari keuangan yang pas-pasan. Pas untuk makan,pas untuk sekolah,dan pas semuanya dan mungkin lebih parah saya yang kadang berkekurangan. Tapi semakin lama semakin membaik. Hidup ini tidak mungkin ada di bawah terus selama kita berjuang. Itu yang saya percayai.
           Untuk kasus ke tiga. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya bisa bertemu dengan teman SMP saya lagi,gara-gara ketemu ibu dan kakaknya. Disatu sisi ia adalah cinta monyet saya yang lanjut menjadi cinta pertama hingga sekarang tetapi saya tidak tahu kabarnya sama sekali selama 2 tahun ini. Walaupun satu hal yang saya tahu ia berada di Singapura selama ini untuk bekerja. Disebut apakah kebetulan ini? Berkat atau musibah? Bagi saya itu berkat. Seperti kata Albert Einstien bilang "Tuhan tidak sedang bermain dadu"
           Untuk yang beranggapan kebetulan itu tidak ada tontonlah The Messenger:The Story of Joan of Arc (1999) yang dibintangi oleh Milla Jovovich. Adegan paling menarik adalah ketika sebuah pedang yang jatuh di sebuah ladang pertanian yang menjadi titik berat cerita tersebut.Difilm tersebut diceritakan probabilitas tentang kepercayaan seseorang akan suatu kejadian. Yang menjadikan seseorang yang skizofrenia menjadi sebuah pembeda dalam sebuah sejarah. Hanya karena sebuah "coincidence"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar