Senin, 21 Oktober 2013

Pernikahan

        Hari sabtu kemarin saya menghadiri acara pernikahan salah satu teman di Surabaya. Di umur saya yang ke 27 menjelang 28 tahun ini makin banyak teman yang menikah melepas status single. Hingga saat ini saya masih belum berpikir menikah,boro-boro nikah pacar saja tidak punya. Sudah melewati jomblo perak dan tidak mau sampai merayakan jomblo emas.
       Buat saya yang terlalu perhitungan,takut akan masa depan,terlalu mikir jauh ke depan pernikahan itu sepertinya masih jauh,padahal sudah di kejar deadline umur.
Pertanyaan standar yang sampai bosan menjawabnya.
"Sudah punya pacar belum?"
"Belum" jawaban standar
"Kapan nikah? Sudah umur 27 masih belum punya pacar,buruan nikah sebelum tua. Kasihan anak kamu kalo kamu terlalu tua."
"......................................"Diam saja daripada keluar pertanyaan yang lain.
Si mama juga sudah ngomong "Cepat nikah biar ada yang ngurus."
Si mama ingin lepas dari ngurusin saya.Ingin jalan-jalan tidak ngurusin anak kali ya? Mumpung masih sehat.
     Di kalangan Chinese nikah itu harus meriah,harus di gedung,minimal restoran,mengundang saudara-saudara yang kalau tidak ketemu di acara nikahan tidak bakalan ketemu. Walaupun papasan di jalan juga belum tentu hafal wajah. Mikirinnya aja udah malas. Ngapain juga nikah mesti undang-undang orang yang kenal saja belum tentu.
     Kadang mikir,enak ya jadi orang bule,nikah ga perlu ramai-ramai,tidak keluar uang banyak buat acara sehari jadi raja,yang demi jadi raja sehari butuh waktu bertahun-tahun untuk menabung uangnya. Orang Chinese bilang nikah sekali seumur hidup harus ramai dong. 3 hal yang harus diadakan secara besar-besaran adalah kelahiran,pernikahan,dan terakhir kematian. Iya kalau punya uang tidak ada nomer serinya tidak apa-apa. Lah duit pas-pasan mau diapain. Ya namanya tradisi. Mampus dah.
     Balik lagi ke topik orang bule. Maried cukup mengundang orang tua,teman dekat,tanpa embel-embel sodara jauh lah,partner bisnis ortu,mertua,yang kalau salaman juga ga tulus-tulus amat ngucapinnya,percaya tidak percaya di setiap acara pernikahan orang Chinese yang diperdulikan itu makanannya.
'Menunya apa aja?"
"Ada scalopnya tidak,sup sirip ikan hiu,hipiau,haisom?"
Makanan semakin mahal semakin dipuji. Begitu hidangan dikeluarin langsung saja acara dicuekin.Belom lagi urusan door price,MC
"Siapa pengisi acaranya?"
""Nikah sama siapa?"
"Usahanya apa?"
Makin panjanglah daftar pertanyaan yang diluar konteks orang nikahnya itu sendiri.
      Inginnya sih adopsi gaya orang bule kalau nikah,tapi bakal jadi cercaan seumur hidup sama saudara sendiri. Tidak tau sopan santun lah,yang ini yang itu. Yang nikah sapa yang sewot siapa. Nikah juga urusannya gampang-gampang susah,kalau di barat nikah itu 1+1 = 2. Kalau di Indonesia 1+1= 2 RT. Keluarga A nikah ama si B urusannya sama keluarga masing-masing. Makin ramai saja campur tangan keluarga.
      Lain lagi pernikahan ala warga pribumi. Nikah rasanya amat mudah. Umur berapa saja bisa langsung aja menikah. Ada mantan pegawai baru umur 20 tahun sudah nikah 2x. Lah modal  5 juta juga beres. Cukup ke KUA,dilanjutin pasang panggung di depan jalan raya sembari memakan hak orang lain menggunakan jalan raya,serasa jalan milik sendiri. Pasang speaker yang besar-besar 4 buah volume set to the MAX. Dari siang sampe tengah malam.Didukung penyanyi dangdut. Dijamin ramai acara.Tidak perduli sama tetangga pokoknya statusnya"MAAF LAGI ADA KEGIATAN."Membanyangkan saya menikah seperti itu aja udah ingin lari saja dari panggung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar