Minggu, 20 Oktober 2013

Traveling part 2

       Untuk membela pandangan saya,mengutip kalimat dari Trinity  “I do believe that the more you travel, the more you open your mind, and then you become more tolerant.”
       Terjemahan indonesianya "Saya percaya semakin sering kita traveling,semakin terbuka pola pikir kita,dan kita akan semakin toleran."
       Pembelaan ini tidak mengarah ke materi. Karena jika dilihat secara "materi" pasti argumennya pasti kalah. 
        Sekedar info Saya pun seorang warga Indonesia keturunan China yang kalau diajak ngobrol bahasa mandarin cuma bisa bengong walaupun bisa sedikit-dikit. Kalo boleh dibilang hanya casing doang. Dimana kedudukan sosial hanya dihargai jika kamu punya banyak harta.
        Beda dengan warga pribumi pada umumnya yang kadang bikin "sirik" memiliki sikap kekeluargaan yang kental. "Makan engga makan kumpul." Walau mungkin sudah terjadi pergeseran moto tersebut tapi masih tetap kental terasa. Beda dengan orang Chinese yang lu-elu gua-gua. "Urusan kamu ya urus aja sendiri,Saya masi punya banyak urusan laen"Ekspektasi orang lain terhadap diri saya pun besar karena saya anak tunggal yang akan menanggung orang tua.
       Traveling itu bukan masalah materi walau berujung butuh materi untuk segala sesuatunya. Tapi saya memilih untuk traveling seperti orang Australia atau warga Barat yang bertujuanuntuk mengetahui apa yang dunia tawarkan. Alam,pemandangan,kultur budaya,sejarah dan begitu banyak lagi yang ditawarkan untuk membuka wawasan kita tentang karya Tuhan,bukan sekedar materi yang akan mungkin bisa habis diterpa krisis,inflasi,karat,kebakaran,gempa bumi,tsunami begitu habis semua langsung gantung diri,depresi,merasa hidup engga berharga karena hilang materi.
     Traveling bagi saya adalah sebuah kegiatan di luar rutinitas. Bahkan saya cenderung menyukai traveling tanpa agen perjalanan,dimana kalau ikut travel agen ujungnya adalah tempat hiburan dan tempat BELANJA'
     Saya traveling bukan mau belanja yang pada umumnya orang Indonesia suka lakukan. Suatu ketika saya traveling bersama rombongan ke suatu negara,para rombongan itu sibuk dengan urusan belanja,bukan memahami kultur budaya,sejarah,terlalu sibuk mengurusi oleh-oleh untuk anak,ponakan,mertua,orang tua,dan lain. Tidak menikmati perjalanan malah sibuk kejar tayang untuk belanja. Sampai bela-belain engga makan buat hunting oleh-oleh. Mau jalan-jalan atau mau belanja? Mending ke toko sablon minta cetakin kaos yang banyak dengan tulisan I LOVE............ Beres deh urusan belanjanya.
       Traveling di zaman sekarang sudah amat terjangkau. Dengan modal 300rb-1 jt sudah bisa dapat tiket PP ke singapore/Kuala Lumpur/Thailand. Dan bisa beli jauh-jauh hari sembari mempersiapkan segala sesuatunya. Istilahnya nyicil untuk biaya hotel,transportasi dan uang saku.
       Banyak orang pengen traveling tapi selalu bilang engga punya uang,tapi untuk gadget terbaru selalu up to date,kalau engga bisa beli pakaian sebulan sekali, ke kafe yang minimal 50rb buat segelas kopi untuk sosialisasi belum lagi beli cake mungil yang seharga harganya bisa ngelus dada ataupun nge-GYM buat bikin badan kekar sekalian konsumsi suplemen penambah otot.
      Saya bukan apatis terhadap hal di atas ,tapi saya berhemat untuk pengeluaran seperti itu dan lebih memprioritaskan untuk traveling karena tiap orang punya kesukaannya masing-masing. Jadi jangan menghakimi orang dengan traveling itu selalu bersangkutan dengan uang banyak Banyak jalan menuju ke Roma. Bisa nebeng,bisa naek pesawat,naek kapal laut,dan terakhir jalan kaki. Jadi it's up to you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar